Sunday, 7 April 2013

Skripsi - Analisa Surat Al-Alaq Ayat 1-5 dalam Konteks Pendidikan Islam



BAB  I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad Ibrahim Muhanna membahas berbagai aspek kehidupan manusia dan pendidikan merupakan tema terpenting yang dibahasnya. Setiap ayatnya merupakan bahan baku bangunan pendidikan yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Hal itu tidaklah aneh mengingat Al-Qur’an adalah Kitab Hidayah; dan seseorang memperoleh hidayah tidak lain karena pendidikan yang benar serta ketaatannya.[1]
Pendidikan sebagai unsur terpenting dalam kehidupan manusia dan merupakan penentu maju mundurnya suatu peradaban, tentunya mengalami proses dan perubahan seiring tahapan-tahapan perubahan yang dialami oleh manusia. Dan dalam tahapan perubahan ini, manusia seringkali mengalami penyimpangan yang tidak sejalan dengan fitrah kejadiannya yang terdiri dari dua unsur; yaitu unsur tanah dan unsur ketuhanan, karenanya manusia membutuhkan pembinaan yang seimbang antara keduanya, agar tercipta makhluk dwi dimensi dalam satu keseimbangan dunia dan akhirat, ilmu dan iman, atau meminjam istilah Zakiah Daradjat, yaitu terciptanya kepribadian manusia secara utuh rohani dan jasmani dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah SWT. atau lebih dikenal dengan istilah “insan kamil” dengan pola taqwa kepada-Nya.[2]
Untuk mencapai konsep ini (insan kamil), manusia haruslah berkualitas, dan kualisasi hidup manusia ini hanya akan diperoleh melalui proses pendidikan dan pengajaran yang Islami, atau menurut Quraisy Shihab, pendidikan Al-Qur’an.[3]
Pendidikan Al-Qur’an pada intinya adalah pendidikan (penyucian) dan pengajaran yang memberikan masukan kepada anak didik berupa ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan alam fisika dan metafisika. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan Al-Qur’an (Islam) adalah membina manusia guna mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah yang sekaligus sebagai khalifah-Nya dimuka bumi. Sebagai hamba, manusia bertugas mengelola seluruh potensi yang ada dialam ini, agar tercipta kedamaian abadi dan terhindar dari (hanya) membuat kerusakan yang pada akhirnya hanya akan mencelakakan manusia itu sendiri. Oleh karena itu dalam pendidikan Al-Qur’an, anak didik sebagai fokus pendidikan dibina unsur materialnya (jasmani) untuk menjadi manusia yang memiliki skill ketrampilan dan unsur imaterialnya (akal dan jiwa) dengan ilmu pengetahuan, kesucian jiwa dan etika (akhlaq). Keseimbangan (equaliberium) dalam pendidikan Al-Qur’an ini pada gilirannya akan menciptakan (melahirkan) manusia berkualitas yang memiliki perpaduan antara ketrampilan, ilmu pengetahuan dan akhlaq.
Namun, tujuan pendidikan yang esensial ini seringkali tidak tersentuh dalam proses pendidikan kita, karena proses belajar mengajar yang diterapkan masih sebatas transfer ilmu pengetahuan tanpa bernilai pendidikan sehingga out put dari dunia pendidikan kita hanya menjadi robot yang tidak mempunyai tujuan hidup serta lebih mementingkan benda-benda fisik-materi dari pada hal-hal yang bersifat spiritual-imateri yang merupakan potensi internal manusia. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyed Hussein Nasr, bahwa manusia modern telah kehilangan dimensi spiritualitasnya, yaitu potensi ketuhanan pribadi[4], sebagai konsekwensi logis dari sekularisasi pendidikan kita yang orientasinya hanya pada sejauhmana ia bisa masuk dalam lapangan pekerjaan bukan pada sejauhmana ia dapat mengaktualisasikan potensi dirinya yang sangat mulia, yang selanjutnya manusia akan kehilangan jati dirinya dan tidak mengenal lagi hakikat dirinya, karena mereka menganggap bahwa potensi eksternal (mesin-mesin, kekuasaan, kekayaan, pengaruh, jabatan dan lainnya) itulah yang dapat menjamin kelangsungan hidupnya.
Kecenderungan ini juga membawa dampak yang signifikan terhadap agama yang kita anut. Agama yang semestinya menjadi pegangan hidup tidak lagi diamalkan dengan penuh keyakinan dan kepercayaan sebagaimana tercantum dalam pesan transendentalnya (kitab suci), bahkan pada dekade terakhir ini, ada kecenderungan baru dimana agama hanya menjadi alat legitimasi untuk memberikan justifikasi kepada keinginan pribadi dan menjadi simbol untuk memberikan kesan Islami sebagai formalitas bahwa kita beragama Islam, tidak sampai dihayati kedalam jiwa karena masih belum dianggap sebagai petunjuk kehidupan yang direfleksikan dalam prilaku sosial.[5] Dan naifnya, masyarakat baru mampu menangkap makna pesan transendentalnya hanya pada batas sakral dan ritual saja, sesuai dengan kualitas keislaman mereka.
Padahal kalau diamati secara seksama, Islam bukan semata-mata ritual yang legal-formal oriented, tetapi ia merupakan risalah suci, yang sesuai dengan karakter universalitasnya (rahmatan lil’alamien) yang selalu membuka ruang bebas interpretasi dan aktualisasi terhadap orientasi keagamaan dan kulturalnya, seiring dinamika perubahan dan kebutuhan kontemporer. Seperti saat awal diturunkannya, ia bisa berakulturasi dengan berbagi budaya dan norma-norma yang terdapat pada masyarakat di semenanjung Arabia, itulah sebabnya mengapa Islam harus mampu beradaptasi sesuai dengan “bahasa” kaum pemeluknya dimanapun dan kapanpun. “Bahasa” disini tidak hanya berkonotasi dengan huruf, abjad, dan simbol-simbol suara, tetapi lebih mengacu pada seluruh adat-istiadat asli dan pola hidup yang dimiliki masyarakat dalam konteks zamannya.[6]
Karena pada dasarnya, Islam merupakan konsep final dari konstruksi aturan normatif yang bersifat global dan universal, berdimensi spiritual (transenden) dan sosial, dengan berbasiskan tradisi propetik (kenabian) yang berkeadaban, yang memungkinkan adanya interpretasi netral terhadap tatanan normatifnya, sesuai dengan kebutuhan zamannya (temporal).
Dan ini merupakan tugas utama dunia pendidikan sebagai bagian tak terpisahkan dari Islam, untuk mencetak generasi-generasi berkualitas yang selanjutnya akan membawa Islam sesuai dengan fungsinya, yakni rahmatan lil’alamien bukan sebagai pemicu lahirnya konflik keagamaan ditengah pluralitas agama dewasa ini.
Tetapi pertanyaannya kemudian, akankah hal itu terjadi ? bila para pelaku (pembuat kebijakan) pendidikan kita sendiri “kurang beragama”, sedangkan agama dalam proses pendidikan sangat dibutuhkan dan antara keduanya harus seiring sejalan, seperi yang difirmankan Allah dalam surat Al-‘Alaq ayat pertama “Iqra’ bismirabbika” (bacalah ! demi karena Pemeliharamu). Yang oleh Abdul Halim Mahmud Syeh jami’ Al-Azhar diartikan bahwa pendidikan (institusi formal) yang diterapkan dan atau ilmu yang diperoleh harus dapat memberikan manfaat pada pemiliknya, warga masyarakat dan bangsanya. Juga kepada manusia secara umum, ia harus dapat membawa kebahagiaan dan cahaya keseluruh penjuru dan sepanjang masa.[7]
Saat ini, secara umum dapat dibuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak lagi mampu menciptakan kebahagiaan hidup manusia. Ia hanya dapat menciptakan pribadi-pribadi manusia yang bersifat satu dimensi, sehingga walaupun manusia itu mampu berbuat segala sesuatu, namun sering bertindak tidak bijaksana yang menyebabkan manusia menyimpang dari fitrah penciptaannya.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Muhammad Iqbal, yang ketika itu menyadari dampak negatif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Beliau menulis: “kemanusiaan saat ini membutuhkan tiga hal, yaitu penafsiran spiritual atas alam raya, emansipasi spiritual atas individu dan satu himpunan asas yang dianut secara universal yang akan menjelaskan evolusi masyarakat manusia atas dasar spiritualitasnya”.[8]
Itulah deskripsi awal yang setidaknya memberi dua alasan bagi penulis untuk mengangkat permasalahan ini. Pertama, lahirnya sekularisasi dalam dunia pendidikan telah berimplikasi pada lahirnya sekularisasi dalam kehidupan manusia. Pada satu sisi, kehidupan (sosial, ekonomi, politik maupun budaya) manusia terus bergerak pada titik ekstrem sekularisme dengan melakukan proses marginalisasi terhadap nilai-nilai agama. Sisi lain, pendidikan –khususnya yang bercorak- agama tidak mampu merespon apalagi melakukan sinergi terhadap kehidupan yang sekuler itu. Agama sebagaimana dipahami pemeluknya, terlena dengan persoalan keakhiratan semata, sementara persoalan kontemporer yang mendesak untuk direspon dibiarkan tanpa kendali agama.
Kedua, sekularisasi telah melahirkan berbagai persoalan akut yang menimpa masyarakat modern. Terutama krisis yang menghilangkan arah hidup manusia itu sendiri, karena sekularisasi hanya menyederhanakan manusia menjadi “manusia satu dimensi” (one dimentional man), yakni dimensi lahiriyah semata.
Pendidikan yang pada dasarnya berada pada posisi yang cukup strategis untuk melakukan transformasi nilai-nilai keislaman sebenarnya bisa menjadi penyeimbang bagi nilai-nilai sekuler yang sudah mewarnai sendi-sendi kehidupan manusia secara komprehensif. Dalam hal ini pendidikan Islam bisa memainkan perannya, tentu saja dengan tetap mengacu pada landasan konseptualnya, yakni Al-Qur’an dan Al-Hadist, supaya out put dari pendidikan Islam dapat berkualitas, baik intelektualnya maupun spiritualnya yang merupakan cita-cita seluruh insan didunia untuk menjadi insan kamil, yaitu integralisasi daya rasa dan daya pikir yang memang menjadi potensi dalam diri manusia.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini, maka secara garis besar rumusan masalah yang menjadi fokus pembahasan adalah:
1.     Bagaimanakah konsep pendidikan Islam yang dijelaskan dalam wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya Muhammad SAW. yaitu surat Al-‘Alaq ayat 1 – 5.
2. Adakah hubungan antara konsep pendidikan Islam dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5 dengan teori konvergensi dalam memandang proses pendidikan manusia.

C. Tujuan Penelitian

Secara spesifik tujuan penelitian yang penulis rumuskan adalah:
1. Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam yang dijelaskan dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5.
2. Untuk mengetahui hubungan antara konsep pendidikan Islam dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5 dengan teori konvergensi dalam memandang proses pendidikan manusia.

D. Kegunaan Penelitian

Dari tujuan penelitian yang telah penulis rumuskan, maka kegunaan penelitian ini adalah:
1. Pendidikan sebagai bagian integral dari Islam dan merupakan “penentu” tinggi rendahnya kualitas nilai keislaman seseorang, menjadikan pendidikan adalah hal yang niscaya dan dapat diharapkan untuk menciptakan kualitas hidup manusia. Karenanya melalui tuliasan ini penulis mencoba mencari paradigma konseptual tentang format pendidikan yang sesuai dengan konsep Al-Qur’an, yaitu dengan menganalisa surat Al-‘Alaq ayat 1-5 dalam konteks pendidikan Islam (sesuai dengan disiplin ilmu yang penulis tekuni), karena penulis yakin, hanya dengan pendidikan Islam kita akan mampu menetralisir dampak buruk dari perubahan yang serba cepat ini untuk membangun kembali moralitas sebagai dasar mental dan karakteristik bangsa yang (katanya) mulai bangkit ini.
2. Manusia sebagai pelaku sejarah, dalam perkembangannya mengalami proses dan perubahan sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk sosial yang berbudaya. Dalam tahapan-tahapan perubahan yang dijalani terkadang manusia mengalami penyimpangan yang tidak sejalan dengan fitrahnya dan membuatnya semakin jauh dari Sang Penciptanya. Karenanya melalui tulisan ini penulis mencoba memadukan antara teori konvergensi dalam psikologi dengan konsep fitrah dalam Islam, yang selanjutnya akan dicari persamaan dan perbedaannya, kelemahan dan kelebihannya guna membangun paradigma baru konsep pendidikan Islam dalam rangka membentuk insan kamil selaras dengan tujuan penciptaannya.

E. Definisi Istilah

1. Surat Al-‘Alaq ayat 1-5 merupakan surat dan ayat-ayat Al-Qur’an yang pertama sekali diwahyukan Allah kepada rasul-Nya Muhammad SAW. ketika Beliau sedang berkhalwat diqua Hira’. Dalam surat ini Allah menjelaskan tentang proses pendidikan manusia mulai dari membaca, menulis, sampai hal-hal yang tidak dapat dipahami oleh manusia kecuali karena petunjuk-Nya.
2.      Pendidikan Islam : usaha sadar manusia dewasa untuk mengarahkan, membimbing dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri anak didik sesuai dengan konsep Islam (Al-Qur’an dan Al-Hadist).



--------oo0oo--------










BAB II

LANDASAN TEORI


A. Teori Konvergensi

Problem terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia menjadi polemik dan perdebatan diantara para filosof maupun ilmuwan. Ada dua aliran pemikiran yang sama-sama ekstrem. Pertama, aliran yang berpendapat bahwa faktor yang paling mempengaruhi perkembangan manusia adalah faktor keturunan / pembawaan. Aliran ini dikenal dengan aliran Nativisme. Kedua, aliran yang mengatakan bahwa faktor yang paling dominan adalah faktor lingkungan (environment). Aliran ini kemudian dikenal dengan aliran Empirisme.
Kedua aliran tersebut sampai saat ini banyak mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan terutama psikologi. Dalam perkembangan selanjutnya, muncul sebuah pemikiran yang memadukan dua garis ekstrem antara teori Nativisme dan teori Empirisme, yaitu teori Konvergensi yang secara etimologis berarti bertemu / bersatu disatu tempat atau pemusatan pandangan.[9] Teori ini memandang bahwa antara keduanya sama-sama penting.
Berikut akan dijelaskan latar belakang munculnya teori konvergensi sebagai perpaduan antara teori Nativisme dan teori Empirisme.
1. Teori yang berkembang sebelum teori Konvergensi
a. Teori Nativisme
Secara etimologis Nativisme berasal dari kata Nativus yang berarti pembawaan, jadi aliran Nativisme ini merupakan doktrin yang secara khusus mengasosialisasikan diri dengan persepsi dan intelegensi. Persepsi ruang dan waktu tergantung pada faktor-faktor alamiah atau pembawaan sejak lahir dan juga dengan kapasitas fungsi intelektual yang diwarisi sejak lahir.[10] Aliran ini dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1788-1860) asal Jerman. Ia berpendapat bahwa pendidikan tidak mungkin dan tidak dapat mempengaruhi perkembangan manusia karena manusia lahir dengan pembawaannya yang bersifat kodrati dan tidak dapat dirubah sama sekali.[11]
Nativisme bisa dikatakan identik dengan Naturalisme yang mengatakan bahwa usaha-usaha pendidikan tidak akan ada hasilnya, malahan usaha-usaha itu justru dapat merusak perkembangan anak secara wajar atau natural, seperti menurut J.J. Rousseau: Everything is good as it come from hand of the author of nature everything degenerates in the hand of man.
Lebih lanjut Rousseau mengatakan bahwa pendidikan adalah persoalan membiarkan dan membebaskan perkembangan anak secara kodrati. Pendidikan bersifat negatif karena hanya bertugas mengawasi dan menghindari masuknya pengaruh-pengaruh buruk terhadap perkembangan potensi jiwa anak secara kodrat baik.
Bahkan yang lebih ekstrem lagi, seorang ahli pendidikan Francis Lucian Arrent mengatakan, pendidikan ? ia adalah omong kosong besar sekali dan hanya mengalikan zaman kezaman. Tetapi jangan terlalu keras karena banyak orang yang hidup dan mendapat nafkah dari padanya.[12]
Aliran Nativisme ini dalam ilmu pendidikan disebut juga dengan pesimisme pedagogis,[13] karena menafikan peran pendidikan bagi perkembangan manusia dan dapat bersifat predestinatif artinya perkembangan manusia seolah-olah sudah ditentukan sebelumnya, tergantung pembawaan yang dimiliki.
b. Teori Empirisme
Nama asli aliran ini adalah the school of British Empiricism yang diawali dari ajaran John Locke (1632-1704) sebagai tokoh utama aliran ini. John Locke masyhur dengan doktrin “tabula rasa”-nya yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong ( blank slate / blank tablet ). Doktrin tabula rasa merupakan arti penting pengalaman, lingkungan dan pendidikan, dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya.[14]
Teori ini sangat berpengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingga melahirkan aliran filsafat “environmentalisme” dan aliran psikologi yang disebut “Environmentalisme psychology”. Dan lebih jelas lagi pengaruhnya terhadap para pengikut aliran “behaviorisme” seperti Skinner dan para behavioris pada umumnya, dalam studinya tentang tingkah laku yang bertumpu pada anggapan bahwa tingkah laku itu merupakan hasil belajar dari lingkungan.[15]
Aliran ini juga disebut denagn aliran optimisme pedagogis, seperti yang diungkap oleh Pavlov bahwa pendidikan adalah maha kuasa, persolan pedidikan dikembalikan pada masalah pembiasaan, dan melalui pembiasaan pendidikan dapat membuat anak menjadi manusia yang dikehendakinya. Bahkan Watson dengan bangga mengatakan: Give me a dozen healthy infants, wal formed, and any own specified world to bring them up in and I ‘ll quarante to take any one random and train him to become any type of specialist. I might select doctor, lawyer, artist, merchant, chif and yesseven beggar-man their regardless of his talent, penchant, tendencies, abilities, vocation, and race of his ancestor.[16]
2. Latar belakang dan pandangan teori Konvergensi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi proses pendidikan manusia
Kedua aliran diatas saling bertolak belakang dan tentunya sama-sama ekstremnya, sehingga condong berat sebelah. Dalam kenyataannya, faktor pembawaan dan lingkungan memang sama-sama saling mempengaruhi.
Dari teori-teori yang sampak saling bertentangan itu, mengusik pikiran psikolog dan philosof Jerman Louis William Stern (1871-1938) untuk mencari titik temu dan memadukannya.
Namun demikian ia melihat bahwa setiap teori mempunyai kekuatan dan keberadaan sendiri untuk menerangkan gejala-gejala tertentu, suatu teori mungkin dapat menjelaskan suatu gejala, tetapi tidak dapat menjelaskan gejala lainnya, begitu pun sebaliknya.
Sehingga teori-teori yang kelihatan saling bertentangan itu sesungguhnya saling melengkapi.[17]
Definisi psikologi menurut Stern adalah ilmu tentang individu yang mengalami / menghayati dan individu yang sadar dan mampu mengalami / menghayati. Dari definisi inilah ia mampu menjembatani antara teori Nativisme dan Empirisme.
Individu yang mengalami / menghayati adalah obyek dari Empirisme, sedangkan individu yang berkemampuan untuk mengalami / menghayati adalah pandangan dari teori Nativisme. Keduanya tidak bisa dipisahkan sehingga Stern berpegangan terhadap kedua teori tersebut.
Kemudian, dalam menetapkan faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, Stern dan para pendukung teori Konvergensi tidak hanya berpegang pada lingkungan atau pembawaan saja, tetapi berpegang pada kedua faktor yang sama-sama penting itu.
Jadi aliran ini mengakui adanya bakat manusia, tetapi juga tidak menungkiri kekuasaan pendidikan dan lingkungan lainnya terhadap perkembangan manusia. Setiap individu itu mempunyai potensi sejak lahir akan tetapi potensi yang masih terpendam itu memerlukan perangsang dari luar untuk bisa berkembang.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama memiliki peran penting dalam menentukan masa depan seseorang.
Karenanya paham Konvergensi ini juga seringkali disebut dengan paham interaksionisme, sebab perkembangan manusai pada dasarnya merupakan hasil interaksi antara faktor pembawaan dan lingkungan. Menurut Crow and Crow,[18] ada beberapa kemungkinan yang akan dihasilkan dari interaksi tersebut terutama untuk perkembangan abilitas mental individu, kemungkinan-kemungkinan itu adalah:
Faktor-Faktor
Hasil
- Jika pembawaan biologis bagus dan lingkungan bagus
- Istimewa
- Jika pembawaan baik dan lingkungan jelek
- Baik atau kurang baik
- Jika pembawaan lemah dan lingkungan baik
- Baik atau kurang baik
- Jika Pembawaan lemah dan lingkungan jelek
- Kurang baik
Namun, dari kemungkinan-kemungkinan yang digambarkan diatas masih sangat relatif sekali. Karena kemungkinan-kemungkinan tersebut tidak bersifat matematis, akan tetapi interaksi antara pembawaan dan lingkungan harus betul-betul berjalan seimbang. Artinya lingkungan yang kondusif dan mendukung terhadap aktualisasai faktor pembawaan sangat menentukan, tetapi sebaliknya lingkungan tidak bisa memaksakan sebuah kondisi yang tidak sesuai dengan pembawaan. Sehingga proses pendidikan yang mengarahkan terhadap interaksi tersebut bisa berlangsung dengan wajar dan optimal.
B. Konsep Pendidikan Islam
1. Konsep dasar pendidikan Islam
Secara historis, Islam sebagai sebuah sistem kehidupan sosial budaya dan peradaban pernah mengalami puncak kegemilangan dalam berbagai bidang, sehingga kemajuannya diakui dunia. Demikian juga dengan sistem pendidikannya sebagai proses pewarisan budaya dan peradaban Islam dari generasi ke generasi maupun sebagai proses pembinaan dan pembudayaan generasi muda mengalami perkembangan yang kreatif dan dinamis. Pusat-pusat pendidikan Islam selalu semarak mulai dari lembaga pendidikan dasar dan menengah (kuttab), masjid-masjid (tempat muhadharah, halaqah, maupun ta’lim dsb), perpustakaan (darul hikmah), madrasah-madrasah sampai universitas. Walaupun pada waktu itu konsep pendidikan Islam belum menjadi perbincangan dan belum secara baku menjadi sebuah konsep dan sistem yang dianut.
Kemudian zaman keemasan peradaban Islam mulai surut, lambat laun pusat peradaban pindah ke Eropa. Kemunduran dan kemandegan sistem budaya dan peradaban Islam ini ditengarai karena sistem pendidikan Islam pada waktu itu mulai melemah, sistem pendidikan Islam tidak mampu mempertahankan kebudayaannya sebagai media transformasi dan internalisasi sistem kehidupan sosial budaya dan peradaban Islam.
Sistem pendidikan pada waktu itu hanya berfungsi mengkaji ulang dan merumuskan ajaran-ajaran agama menurut aliran madzhab-madzhab, sehingga akhirnya tercerai-berai bersamaan dengan jatuhnya kota Baghdad ketangan bangsa Mongol (1258 M).
Pada tahap selanjutnya usaha-usaha pembaharuan dalam berbagai bidang dikalangan cerdik cendikiawan dan intelektual Islam mulai dilakukan, diantaranya adalah mempertanyakan apa dan bagaimana konsep pendidikan Islam itu. Tetapi naifnya ini terjadi ketika sistem pendidikan dan pengajaran modern sudah masuk kedunia Islam. Pendidikan Islam yang harus berhadapan dengan sistem pendidikan modern itu menimbulkan dualisme sistem pendidikan dan pengajaran. Satu sisi, sistem pendidikan modern cenderung bersifat temporer-duniawi saja, sementara disisi yang lain, pendidikan Islam cenderung dipahami hanya bersifat keagamaan semata. Ini sangat berbeda sekali jika dibandingkan dengan ketika Islam mencapai puncak keemasannya, dimana nilai-nilai Islam betul-betul menjadi ruh segala kemajuan diberbagai bidang.[19]
Oleh karena itu, diperlukan sebuah konsep dan prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam sebagai paradigma baru konsep pendidikan Islam yang mampu berfungsi kembali sebagai media transformasi dan internalisasi sistem pendidikan, sosial, budaya serta peradaban Islam.
Pendidikan Islam sebagai sebuah konsep dapat dilihat dan dibuktikan denagn komponen-komponen dasarnya, karena sebuah konsep bisa dibuktikan keabsahan dan validitasnya, baik secara teoritis maupun operasionalisasinya kalau sudah memenuhi syarat-syarat: Pertama, mkempunyai tujuan yang jelas. Kedua, mempunyai metode dan ketiga, mempunyai materi (content).]
Meskipun tujuan pendidikan itu beridealitas tinggi, apabila materi dan metodenya tidak memadai, maka proses pendidikan akan mengalami kemandegan. Karenanya, tujuan tidak akan terwujud dalam sebuah proses kalau tidak menggunakan metode yang efektif dan efisien dan materi yang memadai.
Dengan demikian, pendidikan Islam secara teoritis-konseptual sudah memenuhi syarat sebagai sebuah konsep, karena dari segi tujuannya sudah jelas, disamping juga mempunyai metode dan isi. Tetapi karena dalam tulisan ini hanya untuk dikorelasikan dengan sebuah teori (teori Konvergensi), maka penulis berasumsi bahwa dengan menjelaskan konsep dasarnya saja, artinya hanya mencakup pengertian, fungsi dan tujuannya saja sudah memadai dan laik untuk dianalisa secara korelatif.
Sedangkan metode dan isi dari pendidikan Islam, walaupun juga sudah lengkap dan memenuhi syarat, tetapi karena dalam tulisan ini yang menjadi obyek pembahasan adalah konsep dasarnya saja, maka penulis berinisiatif tidak membahas dan mengkaji metode dan isi dari pendidikan Islam tersebut, karena untuk membahas dan mengkaji metode dan isi dari pendidikan Islam itu disamping kurang memadai juga membutuhkan pembahasan yang luas dan komprehensif.
Oleh karena itu, dalam pembahasan selanjutnya adalah berupa konsep dasar pendidikan Islam, yaitu hakikat, fungsi dan tujuannya.
2. Hakikat pendidikan Islam
Untuk menemukan dan merumuskan pendidikan Islam sesuai dengan fungsinya, yaitu media transformasi dan internalisasi sistem sosial budaya dan peradaban Islam diperlukan sebuah pemikiran yang mendalam dan komprehensif.
Berikut penulis akan mengemukakan pandangan para tokoh pendidikan Islam tentang konsep pendidikan Islam, namun sebelumnya penulis merunut dari segi istilah pendidikan yang dipergunakan (dibakukan) dalam dunia pendidikan Islam sebagai pijakan dasar konsep pendidikan Islam.
Dalam memformulasikan hakikat pendidikan Islam para tokoh pendidikan Islam berbeda-beda pendapat sesuai dengan istilah yang digunakan sebagai landasan konseptualnya. Karena perbedaan istilah yang dipergunakan tersebut menimbulkan perbedaan-perbedaan, baik dari segi teks maupun konteksnya. Kalaupun istilah-istilah tersebut mempunyai beberapa kesamaan juga.
Selama ini istilah yang digunakan dan dikenal dalam masyarakat Islam adalah term at-tarbiyah, at-ta’lim dan at-ta’dib. Istilah yang berkembang secara umum didunia Arab adalah tarbiyah. Salah satu bentuk penggunaannya terlihat pada penamaan fakultas-fakultas pendidikan dengan kulliyah at-tarbiyah, yang di Indonesia disebut Fakultas Tarbiyah. Istilah ini, menurut Muhammad Munir Musa, muncul berkaitan dengan gerakan pembeharuan pendidikan didunia Arab pada perempat kedua abad ke-20. Oleh sebab itu, penggunaannya dalam konteks pendidikan menurut pengertian sekarang tidak ditemukan didalam referensi-referensi lama. Yang ditemukan adalah istilah-istilah seperti ta’lim, adab dan tahdzib.[20]
Penggunaan istilah tarbiyah untuk menandai konsep pendidikan Islam, meskipun telah berlaku umum, ternyata masih merupakan masalah khilafiyah (kontroversial). Diantara ulama pendidikan muslim kontemporer ada yang cenderung menggunakan istilah ta’lim atau ta’dib sebagai penggantinya.
Istilah tarbiyah, menurut para pendukungnya berakar dari tiga kata; pertama, kata raba yarbu ( ربا يربو ) yang berarti bertambah dan tumbuh, kedua, kata rabiya  yarba ( ربي يربى ) yang berarti tumbuh dan berkembang, ketiga, kata rabba yarubbu    ( ربّ يربّ ) yang berarti memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga, dan memelihara. Kata al-Rabb ( الرب ), juga berasal dari kata tarbiyah dan berarti mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaannya secara bertahab atau membuat sesuatu menjadi sempurna secara berangsur-angsur.[21] Firman Allah yang mendukung penggunaan istilah ini antara lain terdapat dalam Qs. Al-Isra’ : 24 dan Qs. Asy-Syu’ara’ : 18.
Abdurrahman al-Nahlawi salah seorang pengguna istilah tarbiyah, berpendapat bahwa pendidikan berarti:
  1. Memelihara fitrah anak,
  2. Menumbuhkan seluruh bakat dan kesiapannya,
  3. Mengarahkan fitrah dan seluruh bakatnya agar menjadi baik dan sempurna,
  4. Bertahab dalam prosesnya.[22]
Beberapa ulama tidak sependapat dengan al-Nahlawi. Abdul Fattah Jalal, ahli pendidikan dari Universitas al-Azhar, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tarbiyah dalam al-Qur’an (al-Isra’ : 24 dan asy-Syu’ara’ : 18) adalah pendidikan yang berlangsung pada fase pertama pertumbuhan manusia, yaitu fase bayi dan kanak-kanak, masa anak sangat bergantung pada kasih sayang keluarga. Dengan demikian, pengertian pendidikan yang digali dari kata tarbiyah terbatas pada pemeliharaan, pengasuhan dan pengasihan anak manusia pada masa kecil. Bimbingan dan tuntunan yang diberikan sesuadah masa itu tidak lagi termasuk dalam pengertian pendidikan.[23]
Sedangkan Muhammad al-Naquib al-Attas tidak menerima penggunaan kata tarbiyah untuk menandai konsep pendidikan dalam Islam, jika memang yang dimaksud dengan pendidikan dalam Islam adalah sesuatu yang khusus bagi manusia. Pada pendapatnya, kata tarbiyah yang ditemukan bersama bentuk-bentuk lain dari akar kata raba dan rabba juga mempunyai arti memberi makan, memelihara, mengasuh, menanggung, mengembangkan, membuat, menjadikan bertambah dalam pertumbuhan, membesarkan dan menjinakkan. Penerapannya dalam bahasa Arab tidak terbatas pada manusia, tetapi meluas kepada spesies-spesies lain seperti mineral, tanaman, dan binatang. Disamping itu, istilah tarbiyah tidak secara alami mengandung unsur-unsur esensial; pengetahuan, inteligensi, dan kebajikan yang justru merupakan unsur-unsur pendidikan yang sebenarnya. Kata rabbayani dalam Qs. Al-Isra’ : 24 berarti rahmah, yakni ampunan dan kasih sayang serta pemeliharaan dalam bentuk pemberian makan, pakaian, tempat berteduh dan perawatan; suatu pengertian yang mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik-material. Lalu, kata rabbayani diperbandingkan dengan kata irhamna karena antara keduanya terdapat kemiripan makna. Namun, kata yang pertama digunakan untuk manusia dan yang kedua untuk Allah.[24]
Istilah lain juga yang digunakan untuk menunjuk konsep pendidikan dalam Islam ialah ta’lim. Jalal, salah seorang yang menawarkan penggunaan istilah ini, mengemukakan konsep-konsep pendidikan yang terkandung didalamnya sebagai berikut:
Pertama, ta’lim adalah proses pembelajaran secara terus menerus sejak manusia lahir melalui pengembangan fungsi-fungsi pendengaran, penglihatan dan hati (lihat Qs. Al-Nahl : 78).
Pengembangan fungsi-fungsi tersebut merupakan tanggung jawab orang tua ketika anak masuh kecil. Setelah dewasa, hendaknya orang belajar secara mandiri sampai ia tidak mampu lagi meneruskan belajarnya, baik karena meninggal dunia maupun karena usia tua renta (lihat Qs. Al-Hajj : 5).
Kedua, proses ta’lim tidak berhenti pada pencapaian pengetahuan dalam wilayah (domain) kognisi semata, tetapi terus menjangkau wilayah psikomotorik dan afeksi. Pengetahuan yang berada dalam batas-batas wilayah kognisi tidak akan mendorong seseorang untuk mengamalkannya, dan pengetahuan semacam itu biasanya diperoleh atas dasar prasangka atau taklid.[25] Ruang lingkup pengertian ta’lim semacam ini, menurut Jalal didasarkan atas firman Allah dalam surat al-Baqarah :151.
Berdasarkan firman Allah tersebut, pendidikan tilawah al-Qur’an tidak terbatas pada kemampuan membaca secara harfiyah, tetapi lebih luas dari itu adalah membaca dengan perenungan yang sarat dengan pemahaman dan pada gilirannya melahirkan tanggung jawab moral terhadap ilmu yang diperoleh melalui bacaan itu. Melalui pendidikan semacam ini Rasulullah SAW. telah mengantarkan para sahabat untuk mencapai tingkat tazkiyah (proses penyucian diri) yang membuat mereka berada dalam kondisi siap untuk mencapai tingkat al-Hikmah. Pada tingkatan terakhir ini, ilmu, perkataan dan perilaku seseorang telah terintegrasi dalam membentuk kepribadiannya yang kokoh.[26]
Istilah ta’dib untuk menandai konsep pendidikan dalam Islam ditawarkan oleh al-Attas. Istilah ini berasal dari kata adab dan, pada pendapatnya, berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkatan dan derajat tingkatannya serta tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmani, intelektual, maupun rohani seseorang. Dengan pengertian ini, kata adab mencakup pengertian ‘ilm dan ‘amal.
Berdasarkan konsep adab tersebut, al-Attas mendefinisikan pendidikan sebagai; “pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kedalam manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga hal ini membimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat didalam tatanan wujud dan kepribadian”.
Pengenalan berarti menemukan tempat yang tepat sehubungan dengan yang dikenali, dan pengakuan berarti tindakan yang bertalian dengan itu (‘amal), yang lahir sebagai akibat menemukan tempat yang tepat dari apa yang dikenali.[27]
Konsep-konsep pendidikan Islam yang dikemukakan al-Nahlawi, Jalal, dan al-Attas, sebagaimana tampak pada penjelasan masing-masing, didasarkan atas telaah terhadap istilah-istilah yang mereka tawarkan. Dengan perkataan lain, mereka berangkat dari definisi konvensional. Persoalan yang akan muncul berkaitan dengan kesesuaian antara makna yang dijelaskan dan makna yang sebenarnya terkandung dalam setiap istilah. Apabila tidak ada kesesuaian antara keduanya, berarti telah terjadi pemaksaan makna; dan apabila ada kesesuaian, maka pengertian pendidikan dalam Islam ekuivalen dengan pengertian tarbiyah dalam konsep al-Nahlawi, atau ta’lim dalam konsep Jalal, atau ta’dib dalam konsep al-Attas. Persoalan lain yang akan muncul ialah apakah tiap-tiap istilah itu sudah memadai untuk menandai konsep pendidikan dalam Islam secara komprehensif ? konferensi Internasional pendidikan Islam pertama yang diselenggarakan oleh Universitas King ‘Abdul Aziz, Jeddah, pada tahun 1977, tampaknya melihat persoalan ini sebagai masalah khilafiyah yang perlu dicari jalan keluarnya. Oleh sebab itu, konferensi merekomendasikan untuk menggabungkan semua ide yang terkandung dalam istilah-istilah tersebut.[28]
Pada perkembangan selanjutnya, banyak tokoh pendidikan Islam yang menyumbangkan pemikirannya tentang konsep pendidikan Islam, misalnya:
  1. Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani, memberikan definisi terhadap pendidikan Islam dengan penambahan tingkah laku yang diusahakan melalui proses dan usaha pendidik, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan peribadinya atau pada kehidupan masyarakat dan alam sekitar atau pada proses pendidikan sendiri dan proses pengajaran sebagai suatu aktifitas asasi dan sebagai proporsi diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.[29]
  2. Sedangkan menurut H.M. Arifin, pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah anak didik melalui ajaran Islam kearah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.[30]
Dari beberapa definisi yang dikemukakan para tokoh pendidikan Islam diatas, menjadi jelaslah bahwa persoalannya bukan terletak pada istilah yang digunakan, tetapi implementasi dari konsep pendidikan itu sendiri, yaitu proses transformasi dan internalisasi nilai-nilai Islam sesuai dengan perkembangan serta pertumbuhan fitrah anak didik, agar menyadari (conscious) akan jati dirinya sebagai hamba dan khalifah Allah untuk menuju kesempurnaan (insan kamil) dan memperoleh kebahagiaan didunia dan akhirat.
3. Fungsi Pendidikan Islam
a.      Tahap Takhliq (Tahap Konsepsi/Penciptaan)
Tahap ini adalah proses terbentuknya struktur dan kerangka serta kelengkapan-kelengkapan dasar ciptaan maupun potensi fitrah (potensi dasar manusia). Fungsi pendidikan Islam pada tahap ini adalah mempersiapkan segala sesuatu yang memungkinkan dan diperlukan bagi terciptanya generasi baru yang memiliki potensi fitrah murni, sehat dan kuat. Selanjutnya menjaga dan mengarahkan potensi fitrah  tersebut agar berjalan secara alami (sunnatullah) dan tidak menyimpang dari dari batas-batas dan ketentuan Allah, misalnya dari sumber-sumber makanan yang membentuk sel-sel tubuh dan sel benih serta proses konsepsi / pembentukan janin apakah legal/melalui ikatan perkawinan yang sah atau tidak. Al-Qur’an menyatakan hal diatas dalam surat al-Baqarah : 168, al-Maidah : 88 dan al-Isra’ : 32.
b.      Tahap Taswiyah (Tahap Penyempurnaan Ciptaan)
Tahap ini adalah proses bertumbuh kembangnya potensi anak secara berangsur-angsur sempurna. Pendidikan Islam pada tahap ini berfungsi untuk mempersiapkan kondisi dan situasi, memberikan perhatian yang diperlukan agar seluruh potensi fitrah anak bisa berkembang dan teraktualisasikan secara fungsional. Sehingga mampu hidup didalam dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau dengan kata lain pendidikan Islam berfungsi untuk memberi dan memenuhi segala kebutuhan hidup anak, baik fisik (pangan, sandang, papan dan lain-lain) maupun psikis (rasa aman dan kasih sayang) agar pertumbuhan dan perkem-bangannya berlangsung dengan wajar dan noemal sesuai dengan potensi fitrahnya. Juga untuk memberikan kesempatan dan fasilitas seluas-luasnya agar secara fisik maupun psikis anak, baik yang menyangkut domain kognitif, afektif dan psikomotoriknya dapat berkembang sesuai dengan fungsionalisasi potensi fitrahnya. Fungsi ini tertuang dalam al-Qur’an surat an-Nahl : 73, al-Isra’ : 24 dan ar-Ruum : 30
c.       Tahap Takdir (Tahap Penentuan)
Tahap ini merupakan proses terciptanya individu sebagai optimalisasi dan spesialisasi dari pengembangan potensi fitrah, yaitu pengembangan potensi, bakat dan minat masing-masing secara individual dan optimal. Sehingga nampak kapasitas, kapabilitas serta kualitasnya.
Pada tahap ini pendidikan Islam berfungsi untuk mempersiapkan segala kondisi serta memberikan perlakuan yang diperlukan agar semua potensi bakat dan minat anak bisa berkembang dengan optimal serta mengarahkannya secara fungsional dalam berbagai bidang sesuai dengan kapasitas, kapabilitas dan kualitasnya atau bisa dikatakan dengan spesifikasi dan profesionalisasi potensi fitrahnya.
d.      Tahap Hidayah (Tahap Pengarahan dan Bimbingan)
Tahap ini adalah proses perluasan dan pengembangan kualitas sistem kehidupan sosial budaya dan lingkungan yang telah dicapai generasi sebelumnya, mengelola dan mengaturnya sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan Allah, yaitu sistem kehidupan sosial budaya dan lingkungan yang Islami dan kondusif sebagai realisasi dari fungsi kekhalifahan manusia dimuka bumi.
Fungsi pendidikan Islam pada tahap ini adalah mengarahkan, melatih dan membiasakan agar setiap individu mampu:
1.      Melaksanankan tugas-tugas hidupnya dengan sebaik-baiknya sebagai sarana atau media beribadah kepada Allah.
2.      Memberikan sumbangan dan partisipasi secara proaktif dan kreatif dalam membangun kehidupan yang adil dan sejahtera.
3.      Mewujudkan perilaku dan akhlaq yang mulia serta memelihara jalur komonikasi yang harmonis dengan masyarakat dan lingkungannya.
4.      Mengevaluasi dan memperbaiki diri dalam partisipasinya terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi kehidupan manusia dimuka bumi.
Fungsi pendidikan Islam pada tahapan-tahapan tersebut bukanlah tahapan yang parsial, artinya tahapan tersebut tidak mesti menunggu selesainya tahapan berikutnya, tetapi keseluruhan tahapan tersebut akan berkembang secara berkelindan dan tumpang tindih sehingga dituntut secara intensif dan komprehensif memahami segala perkembangan itu, agar dapat diarahkan sesuai dengan fungsi-fungsi pendidikan Islam.
Dari tahapan-tahapan fungsi pendidikan Islam diatas, secara umum dapat dikelompokkan menjadi 3 fungsi, yaitu:
1.      Mengembangkan potensi (fitrah)
2.      Mewariskan nilai-nilai Islam (budaya dan lingkungan)
3.      Interaksi antara potensi dan budaya / lingkungan
Hidup itu seperti yang diungkpakan oleh John Dewey adalah pertumbuhan dan perkembangan. Oleh karena adanya pertumbuhan dan perkembangan itulah disebut dengan kehidupan.[31] Ini berarti bahwa proses pendidikan tidak berakhir atas pendidikan itu sendiri, melainkan proses pendidikan itulah yang merupakan tujuan akhirnya dan bahwa proses pendidikan yang dimaksud adalah reorganizing, reconstruction dan transfering yang terus menerus tidak kenal usia.
Oleh karena hakikat pendidikan Islam adalah proses tanpa akhir sesuai dengan konsensus universal yang digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya yaitu long life education, maka fungsi pendidikan Islam dijalankan secara integral dan utuh. Sehingga tidak ada nilai prioritas dalam menjalankan fungsinya, dimana dalam tahapan-tahapan diatas semua fase pertumbuhan dan perkembangan merupakan satu kesatuan yang utuh.
4. Tujuan Pendidikan Islam
a.      Tujuan Ideal
Pendidikan Islam sebagai sebuah konsep mempunyai tujuan ideal, walupun mungkin membutuhkan upaya yang maksimal dan optimal untuk mencapai tujuan tersebut. Dan idealisme yang menjadi acuan penyelenggaraan proses pendidikan Islam, adalah:
1. Terbentuknya insan kamil (manusia universal, conscience)
2. Terciptanya insan kaffah yang memiliki dimensi-dimensi religius, budaya dan ilmiah.
4.      Penyadaran fungsi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah secara utuh dimuka bumi.
b.      Tujuan Pokok
Tujuan umum pendidikan Islam harus dibangun dari tiga komponen sifat dasar manusia, yaitu tubuh, ruh dan akal. Apabila salah satu komponen ini terabaikan maka proses memproduksi suatu pribadi yang utuh dan qualified (sesuai dengan peran khalifahnya) akan gagal, karena ketiga komponen tersebut adalah komponen pokok sebagai satu kesatuan yang bulat.
Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah, tujuan pendidikan Islam adalah:
1.      Tujuan Individual, yang meliputi:
a.       Tujuan Jasmaniah (Ahdaf al-Jasmaniah)
Sebagai khalifah dimuka bumi, maka secara fisik manusia perlu ditempa dan dilatih dengan keterampilan-keterampilan jasmani agar tumbuh dan berkembang dengan kuat dan sehat serta terhindar dari ancaman-ancaman kesehatan fisik.
Oleh karena itu pembentukan sikap-sikap positif dalam perspektif Qur’ani adalah dengan memperhatikan kebutuhan biologis (makan, minum dan seksual) agar tidak merusak fisik yaitu dengan mengikuti runtunan ajaran Islam (tentang cara yang bisa seimbang dan mempermudah sumber makan dan minum serta legalitas perkawinan).
b.      Tujuan Rohaniyah (Ahdaf al-Ruhaniyah)
Sebagai seorang muslim sejati sudah tentu akan menerima dengan setulus hati akan cita-cita ideal yang tertuang dalam al-Qur’an yaitu proses purifikasi dan peningkatan jiwa serta kesetiaannya hanya kepada Allah semata, guna menegakkan moralitas Islami yang terpersonifikasi kedalam diri Nabi Muhammad SAW. sebagai tauladan dua aspek realita ini.
Menurut Sayyid Hawwa, asal usul ruh pada dasarnya mengakui adanya Allah dan menerima kesaksian serta pengabdian kepada-Nya, akan tetapi factor lingkungan dapat merubah dasar asli ini, sehingga bisa saja berbuat sesuatu yang menyimpang dari kebenaran. Tujuan pendidikan Islam harus membawa dan mengantarkan ruh tersebut kepada kebenaran dan kesucian, seperti yang diungkap oleh Muhammbad Qutb, pendidikan Islam harus meletakkan dasar-dasar yang memberi petunjuk agar manusia menerima kodratnya secara terus menerus dengan Allah SWT.[32]
Dengan demikian tujuan ruhaniyah seperti yang dikemukakan Sayyid Hawa dan Muhammad Qutb tersebut adalah memadukan dan meningkatkan peranan ruh, yaitu mengangkat eksistensi dan derajat manusia sebagai hamba Allah serta peranan fitrahnya dengan membuka pintu bagi akal untuk melakukan tugas utamanya dalam rangka pengakuan kepada eksistensi Allah SWT.
c.       Tujuan Aqliyah (Ahdaf al-Aqliyah)
Untuk menemukan kebenaran yang sebenarnya, pendidikan Islam memberi dorongan bagi individu untuk mengembangkan potensi akal sebagai sarana pengembangan intelegensi dan intelektual. Dengan berpijak pada nash-nash al-Qur’an, tanda-tanda kekeuasaan Allah akan terungkap dan akan mengokohkan keimanan kepada Sang Pencipta. Proses pencapaian ini bisa melalui interaksi langsung dengan obyek-obyek (alam semesta) dimana manusia sebagai pencari ilmu pengetahuan akan meyakini dan menemukan sendiri kebenaran berdasarkan bukti-bukti empiris, tahap ini disebut dengan haqqul yakin.
Kemudian apakah kebenaran itu terungkap dengan mengkaji sebuah bukti kekuasaan Allah, misalkan matahari, dengan “ain”nya manusia mampu mempersepsi seluruh fakta-fakta alam kebenaran seperti dinamakan ‘ain al-Yaqin. Karena alam semesta ini merupakan teks yang perlu dikaji (dan memang tidak pernah secara tuntas akan terungkap hakekatnya) maka pencari ilmu pengetahuan yang mempunyai kemampuan dengan potensi akalnya akan terus ditantang untuk mengungkap pesan-pesan simbolis bukti-bukti kekuasaan Allah, sehingga hasilnya bisa disebut ‘ilm al-Yaqin, karena diperoleh dari hasil tadabbur berdasarkan pesan wahyu Ilahi (nash).
Oelh karena itu tugas lembaga pendidikan Islam bukan saja mentransfer ilmu pengetahuan secara verbal dan simbolik belaka, akan tetapi mampu mengembangkan potensi intelektual individu sebagai upaya untuk memahami secara integral bukti-bukti kekuasaan Allah yang akan membawa kepada keimanan dan kemantapan tauhid secara ilmiah dengan jaminan damai tanpa ada rasa khawatir atau ketakutan (Qs. Al-Quraisy : 4). Dengan demikian tujuan individual adalah menyiapkan manusia (dirinya) untuk kehidupannya didunia dan diakhirat, dengan melalui proses belajar.
2.      Tujuan Sosial
Tujuan individual (jasmani, rohani dan akal) tidak akan banyak berarti apabila tidak ada interaksi dengan kehidupan masyarakat (sosial) dimana suatu individu tinggal bahkan akan tercipta individu yang teralienasi dari kehidupannya sendiri.
Oleh karena itu pendidikan Islam sangat memperhatikan fungsi-fungsi sosial tiap-tiap individu sebagai bagian integral dari anggota kelompok dalam masyarakat atau keluarga, atau sebagai anggota keluarga yang pada waktu yang sama juga sebagai anggota masyarakat.
Sehingga yang perlu mendapatkan perhatian adalah proses konformitas (penyesuaian diri) suatu individu dengan kehidupan sosialnya. Kontradiksi bisa saja timbul apabila suatu individu mengingkari ideal Islami sebagaimana idealitas kehidupan masyarakat. Karena konformitas dan individualitas tidak dapat dipahami dalam keterasingannya (teralienasi) dari masyarakat dalam konteks ideal Islami, sebab idealitas dan konfomitas inilah yang mengintegrasikan individu dengan masyarakatnya.
Islam sungguh-sungguh seperti walthanchaung[33] dalam artian berusaha sekuat tenaga untuk menyatukan seorang hamba dengan Tuhannya, individu dan sesamanya, dan sejumlah ilmu pengetahuan manusia dengan wahyu Ilahi. Itu berarti pula bahwa keserasian antara individu dengan masyarakat tidaklah bersifat kontradiktif dengan tujuan individual dan sosial, akan tetapi keharmonisan diantaranya yang menjadi karakteristik pertama yang akan dicapai dalam tujuan pendidikan Islam.
3.      Tujuan Profesional
Tujuan profesional adalah proses pendidikan yang menyangkut pengajaran sebagai ilmu, seni dan profesi sebagai suatu kegiatan dalam masyarakat.[34] Sehingga pendidikan Islam mempunyai fungsi mengembangkan potensi fitrah manusia agar teraktualisasi dalam berbagai dimensi sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya.
Ketiga tujuan diatas dicapai secara integral, bukan parsial dan terpisah antara satu sama lain, dalam rangka mewujudkan manusia paripurna seperti yang menjadi cita-cita ideal ajaran Islam.
c. Tujuan Umum
hasil konferensi pendidikan Islam sedunia pertama merumuskan tujuan pendidikan Islam adalah menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri, person dan kepekaan tubuh manusia. Oleh karena itu pendidikan seharusnya menyediakan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya; spiritual, intelektual, imaginatif, fisikal, ilmiah, dan linguistik baik secara individual maupun kolektif dan memotivasi semua aspek untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan.[35]
Sedangkan M. Athiyah al-Ibrasyi menyimpulkan tujuan umum pendidikan Islam menjadi 5 bagian:
1.      Untuk membantu pembentukan akhlaq yang mulia, karena pendidikan akhlaq adalah jiwa dari pendidikan Islam.
2.      Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat.
3.      Persiapan untuk mencari rizeki dan pemeliharaan segi-segi pemanfaatan.
4.      Menumbuhkan roh ilmiah (scientific spirit) pada pelajar dan memuaskan keingintahuan (coriousity) dan memungkinkan ia mengkaji ilmu dari ilmu itu sendiri.
5.      Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis dan keterampilan.
Menurut Abdurrahman al-Nahlawi, tujuan umum pendidikan Islam meliputi:
1.      Pendidikan akal dan persiapan pikiran.
2.      Menumbuhkan kekuatan-kekuatan dan kesediaan bakat-bakat (potensi fitrah).
3.      Menaruh perhatian pada pendidikan generasi muda.
4.      Berusaha menyeimbangkan segala kekuatan-kekuatan dan kesediaan manusia (intelektual dan psikologis).
d. Tujuan Khusus
1.      Memperkenalkan kepada generasi muda akan dasar-dasar akidah Islam, asal-usul ibadah serta cara pelaksanaannya dengan cara membiasakan dan berhati-hati dalam mematuhi akidah-akidah agama serta menjalankan/menghormati syiar-syiar agama.
2.      Menumbuhkan kesadaran individu terhadap prinsip-prinsip agama dan dasar-dasar akhlaq mulia serta memberikan penyadaran akan bid’ah-bid’ah, khurafat-khurafat, kepalsuan-kepalsuan dan kebiasaan-kebiasaan yang mengotori kesucian akidah Islam.
3.      Menanamkan keimanan kepada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab-Kitab dan Hari akhir dengan berprinsip pada kesadaran dan perasaan.
4.      Menumbuhkan minat generasi muda untuk menambah ilmu pengetahuan adab dan pengetahuan keagamaan serta mengikuti hukum-hukum agama dengan kecintaan dan kerelaan.
5.      Menanamkan rasa cinta dan penghargaan kepada al-Qur’an, dengan membacanya, memahami dan mengamalkan ayat-ayatnya dengan baik.
6.      Menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan kebudayaan Islam, meneladani pahlawan dan mengikuti jejak mereka.
7.      Menemukan rasa rela, optimisme, kepercayaan diri, tanggung jawab, menghargai kewajiban, tolong menolong atas kebaikan dan taqwa, kasih sayang, cinta kebaikan, sabar, berjuang untuk kebaikan, memegang teguh prinsip, berkorban untuk agama dan tanah air serta siap membelanya.
8.      Mendidik naluri, motivasi dan keinginan generasi muda, membentengi dengan akidah dan nilai-nilai Islam, membiasakan mereka menahan / mengatur emosi dan membimbingnya dengan baik. Demikian juga mengajar mereka dengan berpegang pada adab kesopanan dalam  hubungan dan pergaulan mereka, baik dirumah, sekolah maupun tempat lain dilingkungannya.
9.      Menanamkan iman yang kuat kepada Allah, menguatkan perasaan agama dan dorongan agama serta akhlaq pada mereka. Menyuburkan hati mereka dengan kecintaan, dzikir, taqwa dan takut kepada Allah SWT.
10.  Membersihkan hati mereka dari rasa dengki, hasut, iri hati, benci, kekerasan, kesombongan, egoisme, khianat, riya’, rasa perpecahan, perselisihan dan lain-lain.
e. Tujuan Sementara
Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.[36]
Walaupun tujuan ideal pendidikan Islam adalah terciptanya insan kamil, namun pada setiap perkembangan dan tingkat / jenjang pendidikan tertentu pencapaian insan kamil itu diharapkan sudah muncul / kelihatan walaupun dalam ukuran yang sangat sederhana sesuai dengan perkembangan anak.
Dengan demikian, perwujudan insan kamil itu hendaknya nampak pada setiap tingkatan, kalau diibaratkan dengan sebuah lingkaran, tingkat paling rendah merupakan sebuah lingkaran kecil, semakin tinggi tingkatan pendidikannya, lingkaran itu semakin besar walaupun bobot dan mutunya terkadang tidak sama.
f. Tujuan Akhir
tujuan akhir pendidikan Islam dapat dilihat dalam firman Allah, Qs. Adz-Dzariyat : 56, al-An’am : 163 dan al-Imran : 102.
Dari firman Allah diatas terkandung pemahaman bahwa hakekat penciptaan makhluq Allah itu adalah mengabdi kepada-Nya adan akan kembali kepada-Nya.
Dengan demikian tujuan akhir pendidikan Islam adalah realisasi cita-cita ajaran Islam (insan kamil), baik secara perorangan maupun kemasyarakatan sebagai perwujudan dari tugas dan misinya sebagai khalifah; penyerahan diri sepenuhnya hanya kepada Allah atau dengan kata lain, tujuan akhir pendidikan Islam adalah pencapaian kesempurnaan hidup, baik didunia maupun diakhirat.

5. Pandangan konsep pendidikan Islam terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi proses pendidikan manusia
Untuk membuka sebuah perbincangan dan wacana tentang pandangan Islam terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap proses pendidikan manusia, tidak akan lepas dari pandangan Islam itu sendiri terhadap manusia. Menurut Omar Muhammad al-Taoumi al-Syaibani ada 8 prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia, yaitu:
a.       Manusia adalah makhluq termulia didalam jagar raya ini.
b.      Manusia adalah pengemban amanah (Qs. Al-Ahzab : 72)
c.       Manusia adalah makhluq paling utama karena dapat berfikit, berkata-kata, beragama, bermoral dan bermasyarakat.
d.      Manusia mempunyai tiga dimensi; badan, akal dan ruh.
e.       Manusia dalam perkembangannya dipenuhi oleh dua faktor, yaitu pembawaan dan lingkungan.
f.       Manusia mempunyai motivasi dan kebutuhan.
g.      Manusia mempunyai perbedaan individual.
h.      Manusia mempunyai watak yang luwes dan fleksibel.
Diantara prinsip-prinsip diatas yang menjadi obyek pembahasan tulisan ini adalah prinsip bahwa manusia dalam perkembangannya dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan lingkungan.
Lebih lanjut Beliau mengatakan bahwa kedua faktor ini mempengaruhi insan dan berinteraksi dengannya sejak hari pertama ia menjadi embrio sampai akhir hayatnya.[37] Karena begitu kuatnya kedua faktor ini maka sukar sekali untuk merujukkan perkembangan tubuh atau tingkah laku secara pasti kepada salah satu dasar dari kedua faktor tersebut, kecuali dalam hal pertumbuhan jasmani seprti warna rambut, roman muka, mata dan sebagainya dapat dirujukkan pada faktor keturunan, sedangkan dalam bentuk pertumbuhan kepribadian dan sosial dapat dirujukkan pada faktor lingkungan.
Namun demikian, pertumbuhan jasmani tidak seterusnya dipengaruhi oleh faktor keturunan, begitupun pertumbuhan kepribadian dan sosial tidak selalu dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Kadangkala pertumbuhan jasmani juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, baik yang berbentuk alamiah seperti iklim, perubahan musim, dan sifat tanah ataupun yang bersifat sosial budaya seperti cara makan, cara memelihara badan dari penyakit. Demikian juga pertumbuhan akal dan emosi juga dipengaruhi oleh lingkungan dan kturunan, misalnya kecerdasan. Lingkungan boleh memainkan peranan pendorong dan penolong terhadap perkembangan ini sehingga insan dapat mencapai taraf yang setinggi-tingginya, tetapi jangan lupa bahwa lingkunga juga dapat menjadi penghambat yang menyekat perkembangannya.
Tingkat dan kadar pengaruh keturunan dan lingkungan terhadap manusia berbeda-beda tergantung segi-segi pertumbuhan kepribadiannya, umur serta fase pertumbuhan yang dialami, misalnya faktor keturunan pada umumnya akan lebih kuat pengaruhnya terutama pada masa bayi, sebelum hubungan sosial serta berkembangnya batas-batas pengalaman. Demikian juga sebaliknya, pengaruh lingkungan akan lebih besar apabila manusia meningkat  dewasa, yaitu sewaktu arena hubungan dan interaksi sosialnya semakin luas.
Faktor lingkungan disini mencakup seluruh ruang lingkup yang berinteraksi dengan manusia, baik yang berwujud seperti air, udara, bumi, langit, matahari dan sebagainya, maupun yang tidak berbentuk benda seperti insan pribadi, kelompok, institusi sistem undang-undang, alat kebiasaan dan sebagainya.
Sedangkan yang termasuk faktor keturunan adalah ciri dan sifat yang diwarisi, pada umumnya sebagian diwarisi dari bapak, seperempat dari datuk tingkat pertama dan seperenam belasnya dari datuk tingkat ketiga, begitulah seterusnya.
Sifat warisan ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: pertama, sifat-sifat tubuh seperti warna kulit, tinggi atau pendek, warna mata dan sebagainya, kedua, sifat-sifat akal misalnya cerdas dan tolol, dan ketiga, sifat-sifat akhlaq seperti cenderung baik atau jelek, sabar dan egois, taqwa atau maksiat dan sebagainya.
Unsur-unsur pemawaan ini secara umum dapat diwariskan melalui:
a.       Jaringan-jaringan benih yang memindahkan fitrah pertama.
b.      Unit-unit sosial (eksternal) terutama keluarga sebagai media yang berperan dalam hal pancaindera, akal, tradisi, tingkatan serta jenis interaksi sosial yang beraneka ragam.
Landasan normatif yang menjadi acuan mengenai pengaruh faktor lingkungan ini adalah Qs. An-Nahl : 78, Ar-Ruum : 10, Al-Insan : 2-3, Al-Balad : 8-10, Asy-Syam : 7-8, dan Al-Baqarah : 221 serta sabda Nabi SAW:
تخيروا لنطافكم فإن العرق دساس (رواه ابن ماجه والديلمى)
“Pilihlah tempat penyemaian sperma kalian, sebab pengaruh keturunan (nasab nenek moyang) itu sangat kuat”. (HR. Ibnu Majah dan Ad-Dailamy).
Selain landasan normatif diatas, menurut Prof. Ali ‘Abdul Adzim, dalam al-Qur’an banyak ayat-ayat yang secara realitas dan ilmiah menjelaskan tentang pengaruh serta pentingnya memperhatikan faktor pembawaan dan lingkungan bagi proses perkembangan manusia, terutama surat “al-Balad” . al-Qur’an berbicara kepada kita tentang pengaruh keturunan dalam proses kejadian manusia, misalnya:
a.       Al-Qur’an mengisahkan bagaimana Allah mengutamakan keluarga Ibarahim dari sekalian alam sebagai hasil dari keturunan yang saleh dan terus turun kepada generasi berikutnya (Ali Imran : 34).
b.      Al-Qur’an mengisahkan kepada kita baik secara implisit maupun eksplisit tentang keharusan berhati-hati dan cermat dalam memilih pasangan hidup (Al-Baqarah : 221).
c.       Dalam kesempatan lain, al-Qur’an memberikan peringatan bahwa faktor-faktor keturunan seringkali berlainan dan kadang-kadang kehilangan pengaruhnya, contohnya putera Nabi Nuh AS menolak kerasulan ayahnya (Huud : 43) serta ayahanda Nabi Ibrahim AS tetap musyrik (Maryam : 124).
d.      Allah juga mengingatkan kepada kita untuk selalu waspada terhadap anak dan isteri, karena bisa saja suatu saat mereka menjadi musuh kita (at-Taghabun : 14).
Dari beberapa ayat yang dijelaskan diatas, dapat dipahami bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh yang cukup besar, walaupun bukanlah satu-satunya faktor yang paling dominan karena masih ada faktor-faktor lain yang juga signifikan mempengaruhi.
Sedangkan mengenai faktor lingkungan, al-Qur’an dalam beberapa ayat juga secara implisit menyinggungnya, seperti:
a.       Allah mengutamakan beberapa tempat dibandingkan tempat-tempat lain (at-Tin : 1 dan al-Maidah : 21).
b.      Pengaruh lingkungan yang baik sangat jelas berpengaruh terhadap proses pertumbuhan Maryam, dimana Allah menyiapkannya dari keluarga yang saleh dan mulia (Ali Imran : 37).
c.       Namun perlu juga diperhatikan bahwa Allah memberikan perhatian kepada kita bahwa lingkungan bukanlah faktor yang paling menentukan dalam proses penciptaan dan pendidikan, misalnya semua nabi dan rasul tumbuh dalam lingkungan yang keras dan sulit untuk segera mengikuti dan diajak dijalan Allah.
Allah memberikan contoh isteri Nabi Nuh AS dan isteri Nabi Luth AS, betapa hebat dan jauhnya penyimpangan yang dilakukan keduanya walaupun mereka hidup dalam satu lingkungan. Akan tetapi bertolak belakang dengan apa yang terjadi terhadap isteri Fir’aun, dimana ia tetap beriman kepada Allah meskipun ia hidup dalam lingkungan yang dzalim dan otoriter (at-Tahrim : 10-11).[38]
Dengan demikian, faktor lingkungan juga memberi pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan hidup manusia, walaupun juga bukan faktor satu-satunya.
Dari pembahasan diatas, sudah jelas konsep pendidikan Islam memandang bahwa faktor hereditas dan lingkungan sama-sama berpengaruh terhadap proses perkembangan pendidikan manusia yang pada intinya tertuang dalam hadist:
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهوّدانه أوينصّرانه أويمجّسانه (رواه البخارى ومسلم وأبوداود والترمذى وأحمدابن حمبل)
“Setiap anak dilahirkan atas fitrah, maka ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad bin Hambal).

6. Konsep fitrah dalam Islam
a. Pengertian
Kata fitrah berasal dari kata (bahasa) Arab fathara, masdarnya fathrun, artinya adalah memegang dengan erat, memecah, membelah, mengoyak-koyak atau meretakkan.
Bentuk pertamanya fatharahu (dia telah menciptakan) yakni dia menyebabkan ada secara baru untuk pertama kalinya, dengan demikian fathir as-samawati berarti Pencipta langit. Sedangkan futhira (‘ala syay) adalah padanan kata thubi’a yang merupakan bentuk pasif (majhul) dari kata thaba’a (masdarnya thaba’an) yang bermakna memateri, memberi tanda (cap) mencetak atau menanamkan dan merupakan sinonim (mutarodif) dari kata kerja khatama yang berarti dia memateri.
Al-Raghib al-Isfahani, seperti dikutib oleh Hery Noer Aly, mengatakan bahwa kata ini bermakna menanamkan sesuatu dengan menggoreskan tanda atau cap. Dengan demikian kata thaba’allahu ‘ala qalbihi bermakna “Allah memateri hatinya”, begitu juga kata khatama ‘alaihi, merujuk kepada struktur umum alamiah yang menunjukkan suatu sifat / kualitas jiwa, baik melalui penciptaan atau kebiasaan, tetapi utamanya lebih melalui penciptaan.[39]
Juga kata thaba’allahu ‘ala amr Allah berarti Allah telah menciptakan telah menciptakannya dengan kecenderungan pada suatu perkara, keadaan dan kondisi, demikian pula kata thubi’a ‘ala syay berarti “dia diciptakan dengan kecenderungan kepada sesuatu” yang sinonim dengan kata jubila atau futhira.
Thab’an (masdarnya) mengandung arti sifat dasar atau kecenderungan bawaan, sinonimnya adalah sajiyyah (watak), jibillah (pembawaan), thabi’ah (tabiat, watak) dan mizaj (perangai).[40]
Sebutan-sebutan diatas merupakan istilah bagi kecenderungan alamiah bawaan yang tidak bisa berubah, yang ada sejak manusia dilahirkan.
Dengan demikian pengertian fitrah secara harfiah adalah penciptaan yang menyebabkan sesuatu menjadi ada untuk pertama kali, dan struktur / ciri umum alamiah yang mana dengannya seorang anak tercipta dalam rahim ibunya, dan inilah yang diterangkan dalam al-Qur’an surat al-Ruum : 30 dan Hadist Nabi diatas.
Adapun makna lain dari fitrah:
1.      Fitrah berarti asal kejadian, bersinonim dengan kata ibda’ dan khalq, dimana asal kejadian manusia bebas dari noda dan dosa. Fitrah dengan arti asal kejadian ini dihubungkan dengan pernyataan seluruh manusia sewaktu dialam arwah (praeksistensial) yang mengakui ketuhanan Allah,[41] seperti dideskripsikan dalam Qs. Al-A’raf : 172-173).
2.      Fitrah dalam arti kesucian, terdapat dalam hadist (sebagaimana hadist yang ditulis diatas, yaitu riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi dan Ahmah bin Hambal).
3.      Dengan berdasarkan hadist diatas, maka dalam Islam orang tua mempunyai tanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya sejak dini dengan pendidikan dan pengajaran Islam, sesuai dengan fitrahnya, dan dalam Islam tidak dikenal adanya dosa warisan (seperti dalam Kristen). Setiap bayi yang lahir, baik dalam lingkungan Islam maupun lainnya tetap berada dalam fitrah (kesucian) sehingga bila meninggal dunia sebelum aqil baligh maka ia tidak akan disiksa diakhirat sekalipun kedua orang tuanya kafir.[42]
4.      Fitrah dengan arti agama yang benar.[43] Sebagian mufassir menghubungkan arti ini dengan ayat 30 surat ar-Ruum, agama yang benar dalam ayat tersebut menurut para mufassir adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, makna ini juga didasarkan pada hadist:
الااحدثكم بماحدّثني الله خلق أدم وبنيه حنفاء مسلمين (رواه عياض ابن خمار)
“Bukankah aku telah menceritakan kepadamu pada sesuatu yang Allah ceritakan kepadaku dalam kitab-Nya bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya untuk berpotensi menjadi orang-orang Islam”. (HR. ‘Iyad Ibn Khumar).
5.      Fitrah juga berarti sunnah. Pengertian ini didasarkan pada hadist:
الفطرة خمسٌ: الختان والإستحداد وقصّ الشّارب وتقليم الأظفار ونتف الإبط (رواه البخارى ومسلم)
“Fitrah itu ada lima : khitan, istihdad (mencukur bulu-bulu disekitar kemaluan), mencukur kumis, memotong kuku serta mencabut bulu ketiak”. (HR. Bukhari dan Muslim).
6.      Fitrah dengan arti murni (ikhlash).[44] Manusia lahir dengan berbagai sifat yang salah satunya adalah kemurnian (ikhlash) dalam menjalankan suatu aktifitas, makna ini didasarkan pada hadist:
ثلاث وهي المنجيات: ألإخلاص وهي فطرة الله التى فطر النّاس عليها, والصّلاة وهي الملّة, والطاعة وهي العصمة (رواه ابوحميد عن معاذ)
“Tiga yang menjadikan selamat : yaitu ikhlash, berupa fitrah Allah dimana manusia diciptakan darinya, shalat berupa agama, dan taat berupa benteng penjagaan”. (HR. Abu Hamid dari Mu’adz)
7.      Fitrah berarti mengakui ke-Esaan Allah, Ibn Katsir mengatakan bahwa pada dasarnya Allah menciptakan manusia atas ma’rifat dan tauhid-Nya, artinya berusaha terus untuk mencapai ketauhidan,[45]  sebagaimana tertuang dalam surat al-A’raf : 172. Dalam surat ini digambarkan adanya konsensus antara Allah dan roh manusia, walaupun perjanjian dialam praeksistensial ini terjadi dialam immateri, namun jiwa tauhid ini akan tetap berbekas dan akan teraktualisasikan apabila manusia memanfaatkan potensi primordialnya untuk memahami bukti-bukti ke-Esaan Allah, baik yang bersifat qauliyah (wahyu) maupun kauniyah (alam semesta).
8.      Fitrah berarti al-Gharizah (insting) dan al-Munazzalah (wahyu), Ibnu Taimiyah membagi fitrah menjadi dua macam:
a.       Fitrah al-Gharizah adalah fitrah inheren didalam diri manusia yang memberi daya dan kekuatan akal yang berguna untuk mengembangkan potensi dasar manusia.
b.      Fitrah al-Munazzalah adalah fitrah luar yang masuk pada diri manusia. Fitrah ini berupa al-Qur’an dan al-Hadist yang digunakan sebagai kendali dan pembimbing.
9.      Fitrah berarti tabiat alami yang dimiliki manusia, menurut al-Ghazali, fitrah sebagai dasar manusia yang diperoleh sejak lahir memiliki keistimewaan-keistimewaan:
a.       Beriman kepada Allah.
b.      Kemampuan dan kesediaan menerima kebaikan dan keutamaan dan dapat menerima pendidikan dan pengajaran.
c.       Dorongan ingin tahu untuk mencari kebenaran.
d.      Dorongan biologis berupa syahwat (sensual pleasure).
e.       Kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat lain yang dapat dikembangkan dan disempurnakan.[46]
Sedangkan menurut Imam an-Nahlawi, fitrah, tidak terbatas pada sejumlah makna dan interpretasinya, karena konsep dasar fitrah yang tertuan dalam hadist:
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهوّدانه أوينصّرانه أويمجّسانه
terdapat kata ‘ala (harf jar) yang menunjukkan sebagian.[47] Sehingga masih banyak dan memungkinkan timbulnya makna dan interpretasi terhadap fitrah.
Dengan beragamnya arti dan pengertian fitrah diatas, Yasien Muhammed, seorang sarjana etika dan psikologi Islam mengkaji berbagai interpretasi para tokoh Islam tentang konsep fitrah ini (lihat Yasien Muhammed, Insan yang suci, konsep fitrah dalam Islam).
Secara umum ian membagi pandangan para tokoh Islam tersebut menjadi tiga pandangan umum, ketiga penafsiran tersebut dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut:

DUAL
NETRAL
POSITIF
1.    Terlahir
Dengan membawa ke-siapan untuk meneri-ma keimanan dan ke-kufuran.
Dalam suatu kebodo-han dan tanpa dosa, tidak ada keimanan atau kekufuran.
Dalam suatu keadaan iman dan Islam de-ngan membawa suatu potensi kekufuran.
2. Kecende- rungan
Kecenderungan mem-bawa bawaan yang se-tara baik terhadap yang benar maupun yang salah.
Tidak ada kecenderu-ngan bawaan terhadap yang benar atau yang salah, manusia dalam suatu keadaan kosong.
Secara bawaan cende-rung untuk mengenal Allah dan melakukan yang benar.
3.  Kejahatan
Suatu agen eksternal kesesatan yang me-lengkapi kejahatan bawaan pada diri manusia.
Suatu agen eksternal kesesatan.
Suatu agen eksternal kesesatan.
4. Kenabian dan Wahyu
Agen-agen Ilahiyah eksternal bagi petun-juk yang melengkapi kebaikan pada diri manusia.
Agen-agen Ilahiyah eksternal bagi petun-juk.
Agen-agen Ilahiyah eksternal bagi petun-juk yang melengkapi kecenderungan bawa-an.
Dari ketiga pandangan diatas, pandangan dualis diwakili oleh Sayyid Qutb dan Ali Syari’ati, sedangkan pandangan netral diwakili oleh Ibn ‘Abd. Al-Barr dan pandangan positif diwakili oleh Ibn. Taimiyah, Ibn. Qayyim, Imam an-Nawawi, al-Qurtuby dan al-Raghib al-Isfahani.
Berbagai pandangan para tokoh tersebut menggambarkan perbedaan yang jelas dalam hubungannya dengan kecenderungan bawaan, baik pandangan dualis maupun pandangan positif yang sama-sama memasukkan kecenderungan bawaan sebagai unsur aktif dari struktur metafisis manusia, tetapi dengan suatu perbedaan dalam tingkatan.
Dalam pandangan dualis, yang baik maupun yang jahat sama-sama bersifat bawaan sementara dalam pandangan positif hanya yang baik yang merupakan bawaan. Dalam pandangan netral tidak ada yang bersifat bawaan, manusia terlahir tanpa membawa suatu kecenderungan, sehingga menjadikannya sama sekali mudah menerima pengaruh-pengaruh lingkungan, baik pengaruh yang baik maupun yang jahat.
Manusia netral memperoleh kesadaran Islam dalam kehidupan, sementara manusia positif dan dualis terlahir dengan membawa kesadaran tersebut, meskipun kesadaran yang terlahir itu bisa dikaburkan oleh kejahatan yang ada dalam dirinya.
Dari ketiga pandangan diatas yang diharapkan sesuai dengan landasan al-Qur’an dan al-Hadist –walaupun pandangan yang lain juga berdasarkan interpretasi dan pemahaman atas al-Qur’an dan al-Hadist- adalah pandangan positif terhadap konsep fitrah.
Penafsiran positif tentang fitrah adalah intrinsik bagi pikiran muslim dalam menentukan realitas-realitas yang terpercaya tentang Allah, jagat raya dan manusia serta perannya dimuka bumi, khususnya realitas terakhir sebagai khalifah dan hamba Allah yang selalu berada dibawah pengaruh yang kuat dan merata dari fitrah. Sebagai suatu realitas eksistensial yang menembus dimensi-dimensi metafisis, epistemologis, psikologis dan kemandirian dari eksistensi manusia.

b. Implikasi-implikasi fitrah
1. Implikasi Metafisis
Prinsip metafisis merupakan titik tolak ideal yang mendasari pemahaman konsep fitrah, karena melalui prinsip ini kita akan memahami tempat manusia dialam semesta, sifat dasar spiritual dan takdirnya nanti, prinsip inilah yang menyediakan landasan bagi ajaran Islam, serta dari sinilah semua kepercayaan dan sistem nilai lainnya diturunkan.
Dengan demikian, semua implikasi fitrah lainnya berakar dari prinsip metafisis ini. Dari sudut pandang prinsip metafisis ini –tauhid diatas- kembalinya manusia kepada keadaan fitrah asalnya dapat dilakukan dengan menerima dan membenarkan kesaksian (syahadat,  لااله الا الله محمد رسول الله), sebagai penegasan verbal secara sadar sebagai muslim dan merupakan awal rekonsiliasi dengan bawaannya kepada Allah (tauhid). Karena tauhid menyatu denga fitrah. Dan risalah tauhid yang dibawa oleh semua nabi, mulai Nabi Adam sampai Nabi Muhammad merupakan risalah monoteistik yang ditujukan kepada manusia untuk mengaktualisasikan fitrahnya, sesuai dengan fungsinya sebagai khalifah dan penerima amanah Allah dimuka bumi.
Karena tauhid intrinsik dengan fitrah, maka secara alamiyah manusia cenderung untuk mengimani dan menyembah Allah. Dorongan spiritual pada manusia ini berpangkal pada ruh yang telah mengadakan konsensus primordial pada masa praeksistensial. Ruh merupakan esensi transendental yang tidak bisa rusak. Ini berbeda dengan nafsu yang selalu berubah dan membawa kecenderungan negatif pada manusia yang memberontak kepada Allah.
Karenanya, realisasi fitrah berarti melatih dan mendisiplinkan nafsu agar bisa menyatu kembali dengan ruh sehingga mencapai derajat paling tinggi dalam perkembangan spiritualnya, yaitu ketika sebuah wujud manusia berada dalam keselarasan total dengan fitrahnya dan ketika prinsip tauhid diejawantahkan serta ketundukan secara utuh kepada Allah. Dalam al-Qur’an derajat ini disebut dengan annafsul muthmainnah.
2. Implikasi Epistemologis
Implikasi epistemologis fitrah adalah mengakui fungsi kesadaran spiritual melalui organ hati, yaitu medium yang berupa akan dan petunjuk (wahyu) Tuhan, sehingga manusia mampu mencapai semua tingkatan persepsi (inderawi, rasional dan spiritual) bahkan pengetahuan-pengetahuan tentang Allah secara langsung yang selanjutnya manusia dapat mewujudkan perannya secara utuh sebagai khalifah dimuka bumi. Ketiga tingkatan persepsi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Tingkatan Persepsi
Proses Pemahaman
Medium
1. Persepsi Inderawi
Penglihatan, pendengaran, penciuman, dsb
Mata, telinga dan indera lainnya
2. Persepsi Rasional
Kognisi, penalaran, wawasan, dan lain sebagainya
‘Aql dan pikiran
3. Persepsi Spiritual
Intuisi, inteleksi, dan inspirasi
‘Aql dan pikiran
3. Implikasi Etis
Pengakuan dan upaya memperoleh nilai kebajikan adalah suatu sifat bawaan pada diri manusia yang terlahir dari keadaan fitrah alamiahnya. Sedangkan dimensi etis dan moralitas yang melekat pada dirinya adalah diambil dari manusia itu sendiri, sebagai makhluq yang masih menerima ajaran-ajaran etika dan moral untuk mengembangkan suatu kepribadian dan karakter yang luhur serta moral yang bersumber dari jiwanya.
Sehingga jika prilaku seseorang itu sesuai dengan sifat dasarnya yang fitrah, akan dikatakan sehat secara spiritual dan psikologis.
4. Implikasi Psikologis
Implikasi psikologis atas psikis fitrah sangat terkait erat dengan nafsu, sedangkan bagian integral dari nafsu itu adalah emosi dan keinginan. Implikasi psikologis sebagai varian dasar fitrah manusia juga berkaitan dengan dimensi emosional ini, karena antara keduanya sama-sama mempunyai kecenderungan positif dan negatif.
Walaupun struktur biologis manusia secara menyeluruh berbeda dengan struktur psikologisnya, tetapi apabila emosi manusia dikendalikan dan diarahkan kepada tujuan-tujuan spiritual yang lebih tinggi, maka sifat dasar psikisnya bisa didisiplinkan dan berperan sebagai piranti bagi dorongan-dorongan jiwa.
Dua sifat utama nafsu adalah gairah yang menyala-nyala (passion) dan amarah (anger) yang menimbulkan dorongan-dorongan negatif. Gairah secara instruktif cenderung membebani individu dengan kemalasan karena kepuasan dan kegemaran sementara. Dan disaat yang sama ia bersifat ekspresif dan berdetak dengan tenaganya sendiri, menyebarkan gelombang-gelombang aktifitas diluar dirinya.
Sedangkan amarah merupakan suatu emosi yang cenderung pada pemujaan diri, kecongkakan dan dominasi, akan tetapi gairah dapat mengandung rasa kharisma pada individu sehingga menjadikannya berwatak menyenangkan dan menghasilkan rasa ketergantungan pada dirinya. Dan amarah bisa menjalankan fungsi pemeliharaan pada dirinya sehingga berusaha menolak kepalsuan untuk memantapkan harmoni jika terdapat ketimpangan.
Dengan demikian, sifat yang satu ini cenderung negatif dan positif yang menjadi pelengkap jiwa. Yang selanjutnya harus dijaga adalah bagaimana mengendalikan sifat-sifat negatif dari sifat tersebut agar gairah bisa tumbuh dan terhindar dari sifat-sifat yang tercela.
Al-Ghazali menggambarkan interaksi dinamis antara unsur-unsur amarah dan syahwat jika dikendalikan dan dirubah dengan bantuan akal, akan mampu mengubah nafsu yang lebih rendah kepada tingkat yang lebih tinggi dalam perkembangan psikospiritual yang karenanya manusia dapat mengaktualisasikan potensi fitrahnya.
5. Implikasi Paedagogis
Konsep fitrah melalui tuntunan pendidikan Islam dapat diarahkan untuk bertumpu pada tauhid. Dengan maksud untuk memperkuat hubungan yang mengikat manusia dengan Allah SWT. Sehingga segala apa yang dipelajari anak didik seharusnya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid ini.
Konsep tauhid menjadi inti dari semua ajaran agama yang diturunkan Allah kepada manusia, tauhid bukan hanya sekedar………..bahwa Allah itu Esa, tetapi juga masalah otoritas, sehingga konsep tauhid harus menjadi orientasi kurikulum pendidikan Islam.[48]
Dengan demikian tugas dan perhatian dalam program pendidikan Islam harus diupayakan agar dapat mengantarkan potensi dasar (fitrah) anak didik menjadi insan yang mempunyai daya kreatifitas dan produktifitas serta komitmen terhadap nilai-nilai Islam.
Jika anak didik mempunyai sifat dasar yang negatif, maka upaya pendidikan Islam adalah mengarahkan dan membimbing anak agar dapat menetralisir potensi tersebut, misalnya dengan pelajaran-pelajaran yang mampu memberikan pemahaman dan penyadaran, sehingga potensi negatif tersebut dapat dirubah selaras dengan potensi fitrahnya.



------------oo0oo-------------














BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Mengkaji teks agama (al-Qur’an), berarti mempelajari landasan konseptual agama itu sendiri, dan hal ini tidak akan lepas dari nilai-nilai universalitasnya. Karenaya, sebuah metode mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan kemajuan dan kemundurannya.
Islam mencapai puncak kejauaannya juga ditentukan oleh metode yang digunakan pada waktu itu, dimana metode yang diterapkan sesuai dengan prinsip dan nilai-nilai universalitas dari Islam. Tetapi kemudian Islam mengalami masa kemunduran sebagai akibat dari metode yang kurang memperhatikan prinsip dan nilai-nilai universalitas ini, metode yang diterapkan cenderung bersifat dogmatis dan doktriner.
Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis menggunakan metode sintesis, yaitu metode yang menggabungkan antara pendekatan ilmiah dan pendekatan doktriner, seperti yang dikatakan A. Mukti Ali, bahwa untuk memahami Islam dengan segala aspeknya (termasuk ajaran-ajaraanya) tidak cukup hanya secara doktriner saja, sehingga menurutnya; pendekatan ilmiah dan doktriner harus digunakan secara bersamaan.
Selama ini, pendekatan terhadap Islam –terutama teksnya- masih dirasa pincang, ahli-ahli ilu pengetahuan –termasuk dalam hal ini para orentalis- mendekati Islam dengan metode ilmiah saja, akibatnya adalah bahwa penelitiannya itu menarik tatapi sebenarnya mereka tidak mengerti secara utuh, yang mereka ketahui adalah hanya eksternalitas (segi-segi luar) dari Islam itu saja.
Sebaliknya para ulama kita sudah terbiasa memahami Islam secara doktriner dan dogmatis, yang sama sekali tidak dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang hidup dimasyarakat. Akibatnya ialah bahwa penafsirannya itu tidak dapat diterapkan dalam masyarakat. Inilah sebabnya orang lalu mempunyai kesan bahwa Islam sudah ketinggalan zaman dan tidak sesuai lagi dengan alam modern ini.[49]
Karenanya penulis sengaja menggunakan metodologi penelitian ini dengan metode sintesis untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif dan mendalam dari apa yang sedang penulis kaji, yang pada akhirnya dimungkinkan dapat menghadirkan konsep atau paradigma baru bagaimana format pendidikan yang sesuai untuk mencetak insan ideal sesuai dengan tujuan pendidikan Islam, yang selanjutnya akan membawa Islam betul-betul berperan sebagai rahmatan lil’alamien.
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Sebagaimana dijelaskan diatas, bahwa penelitian ini menggunakan metode sintesis, yaitu menggabungkan antara pendekatan ilmiah dan pendekatan doktriner. Ini dimaksudkan agar subject matter penelitian ini sesuai dengan prinsip dan nilai-nilai universalitas dari teks agama (al-Qur’an) itu sendiri.
Adapun pendekatan ilmiah yang dimaksud adalah meninjau dan menganalisis suatu permasalahan atau obyek studi dengan menggunakan metode ilmiah pada umumnya, yang antara lain menggunakan pendekatan ilmu psikologi. Sedangkan ciri pokok dari pendekatan ilmiah ini adalah terjaminnya obyektifitas dan transparansi dalam studi. Obyektifitas suatu studi akan terjamin jika kebenarannya bisa dibuktikan dan didukung oleh data yang konkrit dan rasional. Sedangkan transparansi suatu studi terjadi jika kebenarannya bisa dilacak oleh siapa saja, dan tidak didasarkan atas keyakinan-keyakinan tertentu yang apriori. Disamping itu, pendekatan ilmiah selalu siap dan terbuka menerima analisis kritis terhadap kesimpulan hasil studinya.
Pendekatan doktriner atau pendekatan studi Islam secara konvensional merupakan pendekatan studi dikalangan umat Islam yang berlangsung selama ini. Dengan pendekatan doktriner ini dimaksudkan adalah bahwa al-Qur’an sebagai obyek studi diyakini sebagai sesuatu yang suci dan merupakan doktrin yang berasal dari Ilahi yang mempunyai nilai (kenbenaran) absolut, mutlak dan universal.[50]
Dengan demikian, kedua pendekatan tersebut merupakan satu kesatuan dalam tulisan ini, dan digunakan tidak secara terpisah tetapi secara bersamaan agar diperoleh pemahaman secara utuh dan komprehensif dari subject matter penelitian ini.
Sedangkan jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah penelitian kualitatif (tidak berdasar angka-angka) yang sifatnya deskriptif-korelasional, yaitu menggambarkan “apa adanya” tentang sutu variabel, gejala atau keadaan,[51] yang selanjutnya dihubungkan dengan variabel, gejala atau keadaan lainnya. Dengan kata lain, menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidak hubungan itu,[52] yaitu mencari hubungan antara konsep pendidikan Islam dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5 dengan teori Konvergensi dalam memandang proses pendidikan manusia.
B. Sumber Data
Karena penelitian ini bersifat deskriptif-korelasional yang merujuk langsung pada teks al-Qur’an sebagai ide pokok dalam penelitiannya, tentu saja penulis menggunakan penelitian pustaka (library reseach), yaitu studi literatur dari berbagai rujukan seperti buku, kamus, ensiklopedi, majalah, jurnal dan sebagainya untuk mengokohkan pendapat penulis, hal ini lebih disebabkan ketidak mampuan penulis untuk menafsirkan al-Qur’an secara langsung disamping tafsir yang telah ada.
C. Teknik Pengumpulah Data
Seperti telah disinggung diatas, bahwa penelitian ini menggunakan studi literatur untuk mengokohkan pendapat penulis.
Hal ini dilakukan semata-mata agar pokok permasalahan (subject matter) yang sedang penulis kaji, dapat memberikan pemahaman yang utuh dan tidak parsial kepada pembaca. Karenanya, penulis mengutip pendapat para tokoh sebagai landasan dan pijakan dalam pembahasannya.
Sedangkan teknik pengutipan yang dilakukan terdiri dari dua cara, pertama, kutipan langsung, yaitu mengambil pendapat para tokoh secara langsung sebagai bagian dari pendapat penulis tanpa ditambah atau dikurangi. Kedua, kutipan tak langsung, dilakukan dengan cara mengambil inti dari pendapat para tokoh dan selanjutnya dikaji ulang untuk dipaparkan sesuai dengan permasalahan yang sedang dibahas.[53]
D. Analisis Data
Sesuai dengan teknik pengumpulan data yang telah dipakai dalam penulisan ini, yaitu kutipan langsung dan tak langsung, mak langkah selanjutnya adalah mengkaji kutipan-kutipan itu untuk kemudian ditetapkan apakah kutipan itu akan diambil secara langsung atau tak langsung ?
Dengan demikian, dalam pembahasannya penulis memakai keduanya sebagai pijakan untuk meyakinkan pembaca bahwa penelitian ini betul-betul penting adanya. Sehingga diperoleh pemahaman yang lebih tepat mengenai subject matter dari penelitian yang dilakukan, dan kemudian diharapkan dapat membangkitkan suatu reaktualisasi ajaran-ajaran Islam sebagai sumbangan terhadap pencapaian kebahagiaan hidup umat manusia, atau lebih khusus lagi, terhadap paradigma dan format pendidikan Islam kedepan.











------------oo0oo------------



BAB IV
ANALISA SURAT AL-‘ALAQ AYAT 1-5
DALAM
KONTEKS PENDIDIKAN ISLAM

Al-Qur’an sebagai wahyu terakhir dan merupakan mu’jizat terbesar yang diwahyukan Allah kepada rasul-Nya Muhammad SAW. pada hakekatnya memiliki relevansi dengan dinamika sosial-kemasyarakatan serta merupakan petunjuk bagi umat manusia “hudan linnas” (al-Baqarah : 185) yang setiap saat harus dibuka, dibaca dan dipahami arti atau maknanya, sehingga keberadaannya tidak saja menjadi benda sakral yang memiliki nilai “sakti” atau “petuah” yang mengandung daya penangkal bala, tetapi juga sebagai referensi kehidupan yang sangat berharga yang bermanfaat dalam berkomonikasi dengan Allah, alam, manusia dan bahkan dengan ego manusia itu sendiri untuk mencapai kualitas spiritual tertinggi, yakni taqwa kepada-Nya.[54]
Dewasa ini, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta maraknya budaya modernisasi melingkupi kehidupan umat manusia telah menciptakan manusia-manusia satu dimensi yang kehilangan dimensi spiritualitasnya dan cenderung berorientasi pada kebendaan belaka.
Fenomina dan kecenderungan ini telah demikian luas mewarnai kehidupan manusia, sehingga peran agama sebagai pengendali sikap dan prilaku, maupun sebagai landasan moral, etika dan spiritual manusia menjadi semakin penting adanya.
Pengalaman membuktikan bahwa penguasaan, pengembangan dan pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang tidak disertai oleh keluhuran akhlaq atau budi pekerti akan membawa manusia kepada penderitaan dan kesengsaraan, atau bahkan kehancuran. Oleh karena itu, penguasaan, pengembangan dan pendayagunaan iptek harus senantiasa berada dalam jalur nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan yang luhur.
Al-Qur’an sebagai sebuah konsep dan landasan konseptual Islam, sejak awal diturunkannya telah memerintahkan manusia untuk “membaca” ( إقراء  ), baik ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah, sebagai titik tolak munculnya peradaban manusia. Tetapi jangan lupa “nama Tuhanmu” ( باسم ربك  ) yang merupakan kendali dari perkembangan membaca, karena pada dasarnya antara keduanya harus berjalan seimbang agar tercipta sesuatu yang padu, ilmu dan iman, akal dan hati serta jasmani dan rohani.
Kehilangan salah satunya berarti kepincangan pada diri manusia, seperti yang terjadi selama ini, akibat renaissance yang memunculkan paham-paham modernisme dan sekularisme, membuat ilmu pengetahuan tidak lagi seiring dengan agama, bahkan menganggap agama hanya menjadi penghalang laju perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini mengakibatkan ilmu pengetahuan kehilangan kontrol dan melahirkan manusia-manusia yang memiliki tendensi materialis, kapitalis, rasionalis, dan lainnya serta cenderung membatasi diri hanya pada hal-hal yang “nampak mata” dan mulai meragukan hal-hal yang ada diluar jangkauannya.[55]
Dengan demikian manusia telah mengalami penyimpangan dari potensi fitrahnya, sehingga manusia membutuhkan pendidikan yang dapat mengantarkannya sejalan dengan tujuan penciptaannya. Itulah pendidikan al-Qur’an yang memberi masukan kepada anak didik berupa ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan alam fisika dan metafisika.[56]
Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa al-Qur’an sejak awal diturunkannya telah memerintahkan manusia untuk “membaca”. Membaca disini tidak hanya berarti membaca teks al-Qur’an itu sendiri, tetapi menjangkau setiap sesuatu yang dapat dibaca, karenanya, dari ayat ini manusia dituntut untuk meneliti, mendalami serta berfikir yang selanjutnya akan menghasilkan ilmu pengetahuan baru untuk kepentingan manusia tersebut.
Kemudian sebagai pengontrol atau kendali dari ilmu pengetahuan yang diperoleh, manusia harus tetap melandasi pemahamannya “demi karena Allah”, sehingga ilmu apapun yang diperoleh harus memberi manfaat, baik bagi dirinya maupun manusia pada umumnya. Karena pada dasarnya pengetahuan dan peradaban yang dirancang oleh al-Qur’an adalah pengetahuan terpadu yang melibatkan akal dan kalbu untuk memperolehnya.
A. Falsafah dasar iqra’[57]
1. Pengertian
Kata iqra’ terambil dari akar kata qara’a masdarnya qar’an, qira’atan, qur’anan artinya adalah membaca, menelaah, meneliti, menyampaikan, mendalami, dan mengetahui ciri sesuatu.
Beraneka ragamnya arti dari kata ini yang kesemuanya dapat dikembalikan pada hakekat menghimpun, menyebabkan obyek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dibaca atau dijangkaunya, baik teks tertulis maupun yang tidak tertulis (alam ini).
Iqra’ (fi’il amar dari kata qara’a) yang dalam al-Qur’an terulang sebanyak tiga kali, masing-masing pada surat al-Isra; : 14 dan surat al-‘Alaq : 1 & 3, sedangkan kata jadian dari akar kata tersebut, dalam berbagai bentuk ditemukan terulang sebanyak 17 kali selain kata al-Qur’an yang terulang sebanyak 70 kali, jika diamati obyek dari ayat-ayat yang menggunakan akar kata qara’a ditemukan bahwa ia terkadang menyangkut suatu bacaan yang bersumber dari Tuhan –al-Qur’an dan kitab suci sebelumnya- (lihat misalnya Qs. Al-Isra’ : 45 dan Yunus : 94) dan terkadang juga obyeknya adalah suatu kitab yang merupakan himpunan karya manusia atau dengan kata lain bukan bersumber dari Tuhan (lihat Qs. Al-Isra’ : 14).
Dalam al-Qur’an juga ditemukan kata yang berakar dari kata tilawah berarti membaca, tetapi disini ditemukan perbedaan antara membaca yang berakar  dari kata qara’a dengan membaca yang menggunakan akar kata tilawah, dimana kata terakhir ini digunakan untuk bacaan-bacaan yang sifatnya suci dan pasti benar (lihat Qs. Al-Baqarah : 252 dan al-Maidah : 27).[58]
Dilain segi, dapat dikemukakan suatu kaidah bahwa kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutkan obyeknya, maka obyek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa karena kata qara’a digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan dan sebagainya, dan karena obyeknya tidak disebut sehingga bersifat umum, maka obyek kata tersebut mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau, baik bacaan yang bersumber dari Tuhan maupun bukan, baik menyangkut ayat-ayat tertulis maupun tidak, sehingga mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat, diri sendiri, ayat suci al-Qur’an, majalah, koran, dan lain sebagainya.
Sedemikian luasnya obyek qara’a ini dapat pula mengalami penyempitan makna, apabila hanya dilihat dari dirangkaikannya kata tersebut dengan kata qalam, baik pada ayat keempat sura al-‘Alaq maupun ayat pertama surat al-Qalam. Namun, harus diingat bahwa sekian banyak pakar tafsir kontemporer memahami kata qalam, sebagai segala macam alat tulis-menulis sampai kepada mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih, dan juga harus diingat bahwa qalam bukan satu-satunya alat untuk membaca atau memperoleh ilmu pengetahuan.
Iqra’ (bacalah), begitulah perintah Alloah dalam surat al-‘Alaq ayat pertama yang dirangkaikan dengan bismi rabbika (dengan nama Tuhanmu), dapat diartikan bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan manusia harus pandai membaca. Membaca disini tidak hanya berkonotasi dengan “bahasa maupun simbol-simbol suara lainnya”, tetapi lebih dari itu, akibat luasnya jangkauan membaca tersebut.
Dengan demikian membaca adalah syarat utama guna memperoleh ilmu pengetahuan dan dari ilmu pengetahuan itulah manusia mencapai peradabannya. Sebagai kontrol dari perkembangan ilmu pengetahuan yang diperoleh, manusia harus melandasi pemahamannya hanya “karena Allah”, agar tercipta keseimbangan antara perkembangan pikiran dan spiritualnya.
Kemudian pada ayat ketiga, Allah juga memerintahkan manusia agar membaca (iqra’), tetapi perintah ini tidak dirangkaikan dengan bismi rabbika seperti pada ayat pertama melainkan dengan warabbukal-akram, ini berarti bahwa untuk menumbuhkan minat baca seseorang, ia harus sadar dan yakin bahwa dengan membaca ia akan memperoleh ilmu pengetahuan, karena “Tuhan Maha Pemurah” dan akan memberikan kita pemahaman sesulit apapun bacaan yang kita baca.
2. Pandangan surat al-‘Alaq ayat 1-5 terhadap proses pendidikan manusia
Dalam pembahasan ini, terlebih dahulu akan dibahas proses kejadian manusia sebagaimana tertuang dalam surat al-‘Alaq ayat kedua, khalaqal-insana min ‘alaq (Dia menciptakan manusia dari ‘alaq). Kata ‘alaq pada ayat ini mempunyai banyak arti, antara lain : segumpal darah, sejenis cacing, sesuatu yang berdempet dan bergantung, ketergantungan dan sebagainya.[59] Sedangkan Sayyid Qutb mengartikan kata ‘alaq dengan segumpal darah atau setitik darah beku yang melekat pada dinding rahim, dari benih yang sangat kecil dan sederhana bentuknya.[60]
Dalam ayat lain, Allah juga menjelaskan tentang proses kejadian manusia, yaitu surat al-Mu’minun ayat 12-14, yang oleh M. Hasby Ash-Shiddieqy dalam tafsirnya “An-Nur” diterjemahkan demikian, “Dan sesungguhnya telah kami jadikan manusia dari tanah yang bersih, kemudian kami jadikannya air mani yang disimpan ditempat yang kukuh, kemudian kami jadikan air mani itu segumpal darah, lalu kami jadikannya sepotong daging; dari daging kami jadikan tulang, tulang itu kami bungkus dengan daging, dan kemudian kami menjadikannya makhluq yang baru (manusia sempurna), Maha Berbahagia Allah sepandai-pandai Yang menjadikan sesuatu.[61]
Memperhatikan ayat ini, jelaslah bahwa al-‘alaq menempati periode kedua dari proses kejadian manusia setelah nuthfah. Dan dapat disimpulkan bahwa proses kejadian manusia terdiri atas lima periode : (1) al-Nuthfah; (2) al-‘Alaq; (3) al-Mudhghah; (4) al-‘Idzam; dan (5) al-Lahm.
Al-Nuthfah, yang dalam bahasa al-Qur’an dijelaskan sebagai “setetes yang dapat membasahi”, atau dengan kata lain merupakan bagian kecil dari mani yang dituangkan kedalam rahim, pada dasarnya sejalan dengan penemuan ilmiah abad ke 20 ini yang menginformasikan bahwa pancaran mani yang menyembur dari alat kelamin pria mengandung sekitar dua ratus juta benih manusia dan hanya satu yang berhasil bertemu dengan ovum. Itulah yang dimaksud al-Qur’an dengan :
نطفة من مني يمنى
(Nuthfah dari mani yang memancar)[62] –lihat Qs. An-Najm : 46
Dalam ayat ini (al-Mu’minun : 12-14), Allah tidak menggunakan kata “aku” melainkan “kami” dalam menyelesaikan penciptaannya. Ini menunjukkan bahwa dalam proses kejadian manusia juga terdapat campur tangan manusia didalamnya, yang selanjutnya sangat berpengaruh terhadap perkembangannya, terutama terhadap proses pendidikan manusia itu sendiri.
Sebagaimana dijelaskan dalam Bab II, bahwa proses pendidikan manusia dipengaruhi oleh dua faktor, keturunan dan lingkungan. Faktor keturunan diperoleh manusia sebagai hasil pewarisan dari orang tua maupun nenek moyang anak didik (melalui proses bertemunya sel sperma atau nuthfah dengan ovum), sedangkan Faktor lingkungan adalah hasil interaksi anak didik dengan alam sekitarnya.
Dengan demikian menjadi jelaslah bahwa proses kejadian manusia juga memberi pengaruh terhadap proses perkembangan maupun pendidikan manusia tersebut.
Kemudian pada ayat selanjutnya Allah menekankan pentingnya membaca dan tulis menulis dalam proses pendidikan manusia (al-‘Alaq : 3 dan 4) sebagai unsur dasar (walaupun bukan satu-satunya) untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Kedua unsur ini merupakan unsur penting dalam proses pendidikan (terutama pendidikan formal) yang dapat diharapkan melahirkan generasi-generasi muda berbakat dan mempunyai minat baca / belajar yang tinggi sebagai suatu bentuk pengabdiannya kepada Allah. Karena Allah Maha Pemurah tentunya Dia akan memberikan kita berupa pemahaman dan ilmu dari apa yang belum kita ketahui (al-‘Alaq : 5).
Disini kita dapat melihat adanya perbedaan antara perintah membaca  pada ayat pertama dan perintah membaca pada ayat ketiga. Dimana ayat yang pertama menjelaskan syarat yang harus dipenyuhi seseorang ketika membaca, sedangkan perintah kedua menjanjikan manfaat yang akan diperoleh dari bacaan tersebut.
Tuhan dalam ayat ketiga sampai kelima surat ini, menjanjikan bahwa pada saat seseorang membaca “demi karena Allah” (al-‘Alaq : 1), maka Allah akan menganugerahkan kepadanya ilmu pengetahuan, pemahaman-pemahaman dan wawasan-wawasan baru walaupun yang dibaca tetap itu-itu juga. Hal ini diketahui dengan adanya pengulangan perintah membaca dalam surat tersebut, bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan seseorang harus mengulang-ulang bacaannya.
Apa yang dijanjikan Allah disini sebenarnya telah terbukti secara jelas, baik dari membaca al-Qur’an yaitu dengan adanya penafsiran-penafsiran baru, maupun dari membaca alam ini, dengan bermunculannya penemuan-penemuan baru yang telah membuka rahasia-rahasia alam.
Demikianlah, perintah membaca (sebagai proses pendidikan manusia) merupakan perintah yang paling berharga yang diberikan Allah kepada umat manusia. Karena, membaca merupakan jalan yang akan mengantarkan manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna, sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa “membaca” adalah syarat utama guan membangun peradaban. Dan bila diakui bahwa semakin luas pembacaan semakin tinggi pula peradaban, demikian pula sebaliknya.
Mansuia sebagai ’abdallah dan khalifah fil ardh memiliki potensi untuk memahami perintah ini, karena kekhalifahan yang diperankan manusia menuntut adanya pengenalan terhadap tempat dimana manusia itu berada. Dan pengenalan ini tidak akan dicapai tanpa usaha meupun proses membaca, menelaah, mengkaji dan sebagainya yang merupakan syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia. Berdasarkan hal tersebut, tidaklah mengherankan jika perintah iqra’ menjadi tuntunan pertama yang diberikan Allah SWT. kepada umat manusia.
3. Integralisasi antara akal dan hati
Manusia dicipta oleh Allah (The Unity of God) sebagai makhluq dua dimensi; jasmani dan rohani. Keduanya memiliki substansi yang berbeda; jasmani atau dikenal dengan tubuh mempunyai sifat material. Ia berasal dari tanah dan akan kembali ketanah setelah manusia mati. Dilihat dari unsur ini, manusia adalah makhluq biologis yang cenderung mencari kebutuhan-kebutuhan biologisnya, dan inilah yang membedakan manusia dengan malaikat, tetapi tidak berbeda dari binatang. Sementara itu, rohani atau ruh bersifat immaterial. Ia berasal dari substansi imateri dialam ghaib dan akan kembali ke alam ghaib setelah manusia mati. Sebagaimana firman Allah SWT:
الذى أحسن كل شيء خلقه وبدأ خلق الانسن من طين, ثمّ جعل نسله من سللة من ماء مّهين, ثمّ سوّاه ونفخ فيه من روحه وجعل لكم السمع والابصر والافئدة قليلا ماتشكرون
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (Qs. Al-Sajdah : 7-9).
Rohani, seperti yang dikemukakan oleh al-Jurjani adalah manefestasi Zat Ilahiyah dari segi rububiyah. Tidak ada yang dapat mengetahui hakikatnya kecuali Allah SWT. Ia merupakan substansi yang berbeda dari tubuh, kadang-kadang ia lepas dari tubuh dan kadang-kadang masuk kedalam tubuh.[63] Ia berpadanan dengan kata jiwa (al-Nafs), akal (al-‘aql), dan hati (al-qalb, alfuad). Didalam roh terdapat dua daya; daya berpikir yang berpusat dikepala, disebut dengan akal, dan daya perasa yang berpusat didada disebut kalbu.[64]
Akal yang dalam kata Arab dikenal dengan al-‘aql, dalam ayat-ayat al-Qur’an maupun uraian kamus tidak dijelaskan bahwa akal adalah daya fikir yang berpusat dikepala, al-‘aql malahan dikatakan sama dengan al-qalb yang berpusat didada, seperti firman Allah:
افلم يسيروا فى الارض فتكون لهم قلوب يعقلون بها أو ءاذان يسمعون بها فإنّها لاتعمى الابصر ولكن تعمى القلوب التى فى الصدور
“Apakah mereka tidak melakukan perjalanan dipermukaan bumi sedangkan mereka mempunyai hati untuk memahami atau telinga untuk mendengar; sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tetapi hati didalam dadalah yang buta”. (Qs. Al-Hajj : 46)
Dari ayat ini dapat diketahui bahwa pemahaman maupun pemikiran tidak berpusat dikepala melalui al-‘aql melainkan berpusat didada melalui al-qalb, tetapi kemudian al-‘aql mengalami perubahan makna akibat masuknya pengaruh filsafat Yunani kedalam pemikiran Islam, kata al-‘aql dianalogikan sama dengan kata Yunani nous, yaitu daya fikir yang terdapat dalam jiwa manusia.[65] Dengan demikian pemahaman maupun pemikiran tidak lagi melalui al-qalb didada tetapi melalui al-‘aql dikepala.
Dalam perkembangan selanjutnya, al-‘aql dan al-qalb ini sama-sama mendapatkan porsi perhatian yang seimbang dalam pendidikan Islam, seperti halnya unsur jasmani dan rohani yang membentuk manusia, dimana salah satunya tidak lebih diutamakan dari yang lainnya, karena antara keduanya sama-sama saling mempengaruhi.
Aspek akal dengan daya berfikirnya dalam pendidikan Islam dilatih untuk mempertajam penalaran. Hal ini dibuktikan dalam sejarah Islam; para filosof dan cendikiawan Islam mengembangkan dan mempertajam daya ini atas dorongan ayat-ayat kauniyah, ayat-ayat mengenai kosmos, yang mengandung perintah agar orang banyak memikirkan dan meneliti alam sekitar. Hasil pemikiran mereka ternyata telah membuat peradaban Islam berkembang dengan baik antara abad ke-8 sampai abad ke-13 mesehi.
Sementara itu, daya perasa (al-qalb) dilatih dan diasah dengan baik untuk mempertajam hati nurani atau kata hati. Cara yang digunakan untuk tujuan ini ialah ibadah-ibadah seperti shalat, zakat, puasa, haji dan berbagai bentuk pensucian (tazkiyah) ruh lainnya.[66] Kata hati adalah kesadaran individu akan adanya suatu mahkamah didalam dirinya, yang didalamnya pikiran saling menuduh; dan ketika terjadi konflik kata hati, individu akan menjadi penuntut, terdakwa dan sekaligus hakimnya. Setiap orang mempunyai kata hati yang akan membuatnya selalu merasa diawasi, diancam dan diingatkan oleh hakim yang ada didalam dirinya bahwa ia harus menghormati kata hatinya, meskipun tenggelam dalam kejahatan dan ingin meninggalkan kata hatinya, orang tetap akan kembali mendengarkan kata hatinya itu.[67]
Kata hati selalu menuntun manusia untuk berbuat baik. Oleh sebab itu, pendidikan Islam menghendaki agar kata hati selalu hidup dalam keadaan apapun, baik ketika individu dalam keadaan rahasia (merasa tidak ada orang yang mengawasi perbuatannya) maupun terang-terangan (ada orang yang mengawasi perbuatannya).
Dewasa ini, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil pengembangan daya fikir (al-aql) manusia, telah menyebabkan manusia melupakan kata hatinya. Manusia cenderung berambisi untuk mendapatkan kehidupan dunia secara utuh dan mengabaikan kehidupan akhiratnya, sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan kurang memperhatikan aspek-aspek kemanusiaannya, dan bahkan menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri.
Memang, Islam sangat menganjurkan, mendorong dan memerintahkan manusia agar berfikir dan mempergunakan akalnya, sebagaimana tertuang dalam ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan kata-kata nazhara, tadabbara, tafakkara, faqiha, fahima, ‘aqala dan sebagainya, karena Islam memang diturunkan hanya untuk orang-orang yang berakal dan karena akalnyalah manusia bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatannya.
Tetapi perlu diingat bahwa dalam ayat pertama yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. “iqra’ bismirabbika”, Allah tidak menempatkan kalimat bismirabbika terpisah (dalam penempatan kalimatnya) dengan kata iqra’, tetapi bersamaan dalam satu ayat. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia mempergunakan akalnya (iqra’) harus sesuai dengan kata hatinya, atau dengan kata lain, manusia harus meyakini bahwa apapun hasil yang diperoleh semata-mata “karena pertolongan Allah”. Sehingga manusia tidak menuhankan rasio/akalnya sendiri dan menganggap akalnyalah yang memperoleh kebenaran itu tanpa bantuan hati.
Dalam Islam, antara akal dan hati adalah satu kesatuan (sama-sama dari unsur rohani) dan merupakan sesuatu yang padu yang harus berjalan seimbang, tidak bolah ada yang lebih diutamakan. Kelemahan pada salah satunya akan mengakibatkan manusia menyimpang dari potensi fitrahnya dan tidak mampu menjalankan fungsinya, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah-Nya dimuka bumi. Karena akal tanpa hati akan menyesatkan manusia dan cenderung membuat kerusakan dibumi, begitu pula hati tanpa akal akan berputar-putar ditempatnya tanpa ada peningkatan sedikitpun dan cenderung taken for granted terhadap perubahan yang terjadi.
Demikianlah pendidikan Islam menyeimbangkan keduanya, akal dan hati, jasmani dan rohani. Pendidikan Islam sesungguhnya menganut prinsip apa yang sekarang disebut sebagai “pendidikan manusia seutuhnya”. Dalam hal ini Muhammad Qutb mengemukakan bahwa Islam memandang manusia secara totalitas, mendekatinya atas dasar apa yang terdapat didalam dirinya, atas dasar fitrah yang diberikan Allah kepadanya. Tidak ada sedikitpun diantara fitrah itu yang diabaikan; tidak pula  memaksakan apapun selain apa yang dijadikan sesuai dengan fitrahnya. Ia menganalisis fitrah manusia secara cermat, lalu menggesek seluruh senar hingga melahirkan nada yang selaras. Ia tidak menggesek senar-senar itu satu demi satu sehingga menimbulkan suara yang sumbang dan irama tidak harmonis yang tidak mengekspresikan gubahan paling mengesankan.[68]
B. Hubungan antara konsep pendidikan Islam dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5 dengan teori konvergensi
Dalam pembahasan sebelumnya (Bab II) sudah cukup jelas apa yang dimaksud dengan teori konvergensi dalam psikologi serta konsep pendidikan Islam secara umum. Namun untuk lebih menukik dan lebih komprehensif, dalam pembahasan ini akan dipaparkan bagaimana sebetulnya hubungan antara teori konvergensi dan konsep pendidikan Islam yang ditawarkan oleh surat al-‘Alaq ayat 1-5, sehingga akan diketahui secara rinci differensiasi serta similarisasi antara keduanya.
Pertama perlu dikjelaskan lagi apa sebetulnya teori konvergensi itu?. Teori konvergensi muncul sebagai suatu upaya untuk memadukan antara dua alur pemikiran yang sama-sama ekstremnya, yaitu persoalan faktor manakah yang paling dominan mempengaruhi perkembangan hidup manusia.
Satu pihak (aliran Nativisme) berpandangan bahwa factor pembawaan / keturunan yang paling dominan berpengaruh, sementara dipihak lain berpandangan bahwa faktor lingkunganlah yang paling dominan berpengaruh. Polemik dan perdebatan tentang faktor pembawaan dan lingkungan ini mengusik pikiran ilmuan Jerman, Louis William Stern untuk mencari titik temu dan memadukan kedua pandangan yang sama-sama ekstrem ini. Sehingga muncullah pemikiran bahwa pembawaan dan lingkungan sama-sama berpengaruh terhadap perkembangan hidup manusia.
Kemudian kautannya dengan pendidikan Islam sebagaimana tertuang dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5, dimana pendidikan manusia (dalam pendidikan formal) diawali dari menulis dan membaca. Dalam perkembangannya juga dipengaruhi oleh dua faktor tersebut, karena manusia diciptakan dari ‘alaq yang membutuhkan lingkungan dan fitrahnya memiliki tendensi yang hampir sama dengan teori ini.
Karenanya, penulis sengaja mengkorelasikan teori konvergensi ini dengan pendidikan Islam, karena satu sisi teori konvergensi untuk sementara memang diakui bisa diterima, terutama dalam perspektif psikologis-pedagogis, dan disise yang lain pendidikan Islam sebetulnya masih perlu “menimba” teori-teori maupun konsep-konsep lain, paling tidak sebagai bahan perbandingan. Walaupun idealnya dari kalangan intelektual Islam sendiri sangat mungkin memunculkan konsep-konsep maupun teori-teori baru yang bisa diterima didunia pemikiran, terutama barat, dimana saat ini cenderung hanya mengadopsi teori, konsep maupun pemikiran dari luar.
Kemudian mengapa hanya konsep dasarnya saja yang penulis korelasikan dengan teori konvergensi ?. Teori konvergensi sebagai sebuah pemikiran teroritis-konseptual yang bersifat netral, bisa saja dibawa dan diaplikasikan kemana saja, walaupun mungkin agak sempit cakupannya. Sementara pendidikan Islam, karena sudah menjadi sebuah konsep dimana unsur-unsurnya sudah lengkap, maka untuk mengkorelasikan dengan sebuah teori (dalam hal ini teori konvergensi), penulis berasumsi bahwa yang laik dan cukup memadai adalah konsep dasarnya saja, yakni berupa pengertian, fungsi dan tujuannya serta konsep fitrah sebagai kerangka acuan pengembangan pemikiran (kerangka epistemologis). Sehingga dari korelasi tersebut nampak bagaimana pandangan masing-masing terhadap obyek permasalahan yang dibahas (hereditas dan lingkungan).
Teori konvergensi berpandangan bahwa proses perkembangan manusia dipengaruhi oleh dua faktor; hereditas dan lingkungan. Dalam perkembangan selanjutnya, teori ini cenderung hanya memperhatikan dimensi fisik-psikologis manusia dan mengabaikan dimensi psikis-spiritualnya, sehingga sangat memungkinkan untuk melahirkan manusia-manusia satu dimensi.
Sementara konsep pendidikan Islam, yang juga mengakui adanya pengaruh dua faktor tersebut, memandang bahwa manusia adalah satu kesatuan yang utuh, mendidiknya harus memperhatikan aspek keseluruhannya. Sehingga dalam pendidikan Islam, baik aspek fisik maupun psikis sama-sama mendapat perhatian yang seimbang.
Selama ini, pembahasan tentang kedua faktor tersebut masih dirasa pincang karena hanya terbatas pada hubungan antara keduanya bukan pada bagaimana mengoptimalkan peran dari keduanya agar tercipta suatu individu yang ideal yang mendekati titik kesempurnaannya.
Oleh karena itu, untuk selanjutnya optimalisasi antara kedua faktor ini perlu mendapat perhatian agar aktualisasi potensi dasar individu tidak mengalami penyimpangan. Tentu saja dengan memilih dan menciptakan kondisi (lingkungan) yang mendukung serta kondusif bagi perkembangan kedua faktor tersebut.
Disinilah penulis kira pentingnya peran tokoh pendidikan maupun psikolog Islam agar mampu mengkaji lebih dalam terhadap perkembangan ilmu pendidikan terutama psikologi guna memunculkan ide-ide maupun konsep-konsep inovatif bagi peningkatan dan maksimalisasi pencapaian tujuan pendidikan Islam itu sendiri.
Disamping itu, yang paling menentukan terhadap kualitas serta kematangan individu adalah unsur dalam diri individu ini, karena setiap individu mempunyai potensi dasar yang sangat individual sifatnya, dimana ia mempunyai kemampuan dan kebebasan untuk menerima atau menolak suatu lingkungan tertentu dengan unsur-unsur potensi dasarnya (fitrah). Kemampuan inhern ini juga senada dengan istilah self direction atau self discipline yang berarti potensi psikologis yang dimiliki setiap individu untuk memilih atau menolak.[69]
Sehingga menurut pandangan penulis seluruh proses perkembangan manusia itu tergantung kepada inner consciousness atau self consciousness yaitu kesadaran dari dalam atau kesadarn diri dalam diri setiap individu. Dalam bahsa agama mungkin faktor hidayah dan inayah dari Allah yang juga memainkan peran dalam proses penyadaran diri atau kesadaran diri ini. Karena self consciosness ini adalah potensi setiap manusia yang selalu berhubungan dengan Tuhannya dan tak akan pernah hilang walaupun ia seorang yang lahir dilingkungan musyrik atau kafir.
Dari kesadaran diri inilah, yang selanjutnya membuat manusia mampu membebaskan dirinya dari belenggu yang ada dalam dirinya, karena kesadaran diri bersumber dari kesadaran akan alam primordial manusia ketika mengikat consensus dengan Tuhannya (implikasi metafisis fitrah). Hanya melalui kesadaran dirilah, kata Iqbal, manusia akan mencapai derajat insan kamil. Menurutnya, insan kamil akan lahir melalui tiga tahapan: pertama, adalah ketaatan kepada hokum, karena dengan ketaatan dapat melatih khudi (kedirianatau selfhood) untuk melangkah pada tahap kedua, yaitu penguasaan diri yang sempurna sebagai bentuk tertinggi dari kesadaran diri tentang pribadi, sehingga pada gilirannya dapat menyiapkan diri untuk tingkat ketiga, yaitu khalifah Ilahi. Profil khalifah Ilahi sebagai personifikasi insan kamil, menurut Iqbal adalah Nabi Muhammad SAW. dia adalah khudi yang paling lengkap dan paripurna dalam tujuan kemanusiaan, puncak kehidupan, baik rohani maupun jasmani.[70]
Demikianlah hubungan yang dapat dijelaskan antara konsep pendidikan Islam dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5 dengan teori konvergensi, yang keduanya sama-sama mengakui adanya pengaruh pembawaan dan lingkungan, tetapi disini ada pengaruh lain yang juga tidak sedikit pengaruhnya terhadap proses perkembangan manusia.
Selanjutnya, sebagai bagian dari analisa korelatif ini, penulis mengadakan differensiasi da similarisasi serta kelemahan dan kelebihan antara teori konvergensi dan konsep pendidikan Islam.
1. Perbedaan antara teori konvergensi dasn konsep pendidikan Islam
a.       Dilihat dari sumber dan latar belakangnya, teori konvergensi muncul karena perkembangan pemikiran filosofis, yaitu dari aliran personalisme, sebuah pemikiran filosofis yang sangat berpengaruh terhadap disiplin-disiplin ilmu yang berkaitan dengan manusia. Sedangkan konsep pendidikan Islam merupakan hasil pemikiran divine-filosofis artinya bersumber dari pemikiran filosofis yang berlandaskan wahyu (al-Qur’an dan al-Hadist).
b.      Konsep hereditas / pembawaan dalam teori konvergensi, dalam perkembangannya cenderung lebih dominan pada dimensi struktur biologis manusia, misalnya unsur gen, karakter, dan temperamen dan kurang memperhatikan dimensi spiritual-psikis misalnya kondisi kejiwaan pada masa pra eksistensial. Sedangkan konsep pendidikan Islam justru sangat memperhatikan dimensi spiritual-psikis dengan tidak mengabaikan unsur fisik-biologisnya. Dengan potenis fitrahnya yang dibawa sejak masa pra eksistensial, setiap infividu yang lahir telah membawa potensi ketuhanan (tauhid). Dengan prinsip inilah pada esensinya eksistensi manusia hidup sebagai khalifah dan hamba, walaupun dengan faktor eksternal potensi ini dapat menyimpang dan tidak sesuai dengan consensus primordial tadi.
c.       Orientasi psikologi kontemporer termasuk teori konvergensi berorientasi antroposentrisme, sedangkan orientasi pendidikan Islam adalah antropo-religius sentries.
2. Persamaan antara teori konvegensi dan konsep pendidikan Islam
a.       Baik antara teori konvergensi maupun konsep pendidikan Islam sama-sama mempercayai bahwa proses perkembangan manusia dipengaruhi oleh dua faktor; hereditas dan lingkunga.
b.      Sama-sama mempunyai orientasi pedagogis, artinya baik teori konvergensi maupun konsep pendidikan Islam mempunyai pandangan bahwa proses pendidikan merupakan hasil dari interaksi antara faktor pembawaan dan lingkungan.
c.       Latarbelakang munculnya teori konvergensi dan pandangan pendidikan Islam tentang perpaduan kedua faktor itu adalah sebagai counter terhadap aliran nativisme (pesimisme) dan aliran empirisme (optimisme), karena kedua aliran ini memang sama-sama ekstrem dan menimbulkan ketimpangan.
3. Kelemahan antara teori konvergensi dan konsep pendidikan Islam
a. Kelemahan teori konvergensi
1.      Meskipun secara jelas teori konvergensi mengakui dan mempercayai bahwa perkembangan manusia dipengaruhi pembawaan dan lingkungan, namun secara substansial tujuan yang menjadi orientasi dari teori ini kurang jelas.
 Sehingga bisa saja mengalami penyimpangan, suatu missal unsure pembawaan (negatif dan positif) dapat dikembangkan dalam lingkungan yang kondusif dan mendukung terhadap pembawaan itu. Kalau pembawaan itu positif mungkin tidak menjadi persoalan bahkan bisa jadi membawa kebaikan, tetapi apabila pembawaan itu negatif tentunya akan menimbulkan akibat yang fatal.
Dengan demikian, teori ini bisa saja diaplikasikan oleh seorang seperti Hitler yang mampu mencetak dan membentuk manusia kanibal yang sangan kejam.
2.      Teori ini cenderung bersifat statis karena pada perkembangan selanjutnya bukan teori konvergensi yang mendapat perhatian dalam eksperimen ataupun penelitian psikologis, justru teori ataupun konsep lain seperti teori behaviorisme, environmentalisme dan aliran psikologi lainnya.
3.      Dengan tidak jelasnya tujuan dan orientasi dari teori konvergensi ini, dimensi kejiwaan kurang mendapat perhatian. Para ahli psikologi cenderung lebih intens meneliti unsur-unsur biologis dan prilaku, sehingga menurut penulis psikologi sudah agak menyimpang dari definisinya yang mempelajari unsur-unsur psikis, justru malah terabaikan.
b. Kelemahan konsep pendidikan Islam
1.      Meskipun konsep pendidikan Islam bersifat fleksibel dan luwes (dapat menerima konsep atau teori dari luar yang sesuai dan memungkinkan untuk diterapkan). Sistem pendidikan Islam masih kekurangan tenaga-tenaga inovatif yang mampu menghasilkan dan mengembangkna paradigma baru dalam berbagai disiplin ilmu terutama yang berkaitan dengan ilmu kependidikan dan psikologi.
Selama ini cenderung taken for granted dan menunggu perkembangan hasil-hasil berbagai sains yang memang berkembang dengan pesat. Dan masih sedikit ilmuwan-ilmuwan Islam yang mampu menggali teori atau konsep yang berangkat dari kerangka epistemology Islam.
Walaupun sudah muncul angin baru perkembangan pemikiran Islam, misalnya dengan ide Islamisasi sains, satu sisi mungkin sebagai komparasi saja, tetapi pada sisi yang lain dapat memicu pemikir-pemikir Islam untuk memulai mengembangkan kerangka epistemology ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam.
2.      Sistem pendidikan Islam dirasakan masih kekurangan metodologi, baik dari segi teoritis-konseptual maupun operasional-aplikatif.
4. Kelebihan antara teori konvergensi dan konsep pendidikan Islam
a. Kelebihan teori konvergensi
Sebagai sebuah teori, paling tidak sudah banyak mengilhami dan memberikan sumbangan yang tidak sedikit bagi dunia psikologi, tak terkecuali pendidikan Islam yang juga mengakui akan anggapan dasar teori ini, yaitu tentang factor pembawaan dan lingkungan.
b. Kelebihan konsep pendidikan Islam
1.      Konsep pendidikan Islam bersifat fleksibel dan luwes sehingga dapat menerima masukan dari luar, apakah itu berupa suatu pemikiran, ide, konsep maupun teori.
2.      Sebagai sebuah sistem, dalam pendidikan Islam unsur-unsur dari system tersebut sebetulnya sudah lengkap, mulai dari tujuan dasar sampai pada kinerja operasionalnya.
Namun yang paling esensial dan substantif menurut penulis adalah konsep dasarnya, sebagai bagian dari sistem pendidikan Islam yang menjadi acuan pelaksanaan pendidikan Islam, yaitu konsep fitrah yang merupakan modal utama dan paling signifikan untuk dikembangkan dalam berbagai perspektif. Sehingga dengan berpijak pada kerangka fitrah tersebut peradaraban fitri yang didamba-dambakan seperti ketika Islam menjadi pusat peradaban dunia bukanlah sesuatu yang utopis saja.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari seluruh pembahasan dan analisa yang penulis lakukan, secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Studi analisa yang penulis lakukan terhadap surat al-‘Alaq ayat 1-5 dalam konteks pendidikan Islam, yaitu dengan upaya mencari konsep pendidikan yang ditawarkan oleh surat tersebut, dapat diungkap bahwa proses pendidikan manusia untuk mencapai peradabannya dimulai dari membaca dan menulis, yang dalam prosesnya juga melibatkan peran akan dan hati secara bersamaan.
2.      Kemudian dari analisa korelasi yang penulis lakukan terhadap teori konvergensi dan konsep pendidikan Islam dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5, dapat diketahui bahwa keduanya sama-sama mengakui adanya pengaruh faktor pembawaan dan lingkungan terhadap perkembangan manusia. Hal ini disebabkan karena manusia diciptakan dari ‘alaq yang membutuhkan lingkungan, tetapi dari kajian komprehensif yang dilakukan oleh penulis, ternyata selain kedua faktor tersebut ada unsur lain yang juga ikut berperan dalam proses perkembangan manusia. Unsur lain yang penulis maksudkan disini adalah unsur yang berasal dari setiap individu itu sendiri, yaitu unsur “kesadaran diri” yang muncul dari potensi fitrah manusia.
B. Saran-saran
1.      Untuk menciptakan generasi insan kamil yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, maka proses pendidikan yang diterapkan haruslah memperhatikan aspek jasmani dan rohani, serta akal dan hati manusia, agar tercipta suatu individu yang utuh dan tidak menyimpang dari potensi fitrahnya.
2.      Sedangkan untuk mengaktualisasikan potensi individu secara maksimal, diperlukan adanya optimalisasi peran pembawaan dan lingkungan, agar terbentuk suatu individu yang mendekati titik kesempurnaannya, karena memang mustahil akan betul-betul sempurna.






----------oo0oo----------



[1] Ahmad Ibrahim Muhanna, Al-Tarbiyah fi Al-Islam, (Cairo: Dar Al-Sya’bi, 1982),  hal. 13, dikutip oleh Hery Noer Ali, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999),  hal. 38
[2] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 29
[3] Quraisy Shihab,  Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 172
[4] Komaruddin Hidayat, Upaya pembebasan manusia, tinjauan sufistik terhadap manusia modern menurut Sayyed Hussein Nasr, dalam M. Dawam Rahardjo, Insan Kamil, konsepsi manusia menurut Islam, (Jakarta: PT. Pustaka Grafiti Pers, 1987), hal. 183-193, ditranskripsi kembali dalam, Sayyed Hussein Nasr: tentang krisis spiritual manusia modern, (Sumenep: Jurnal Fajar STIKA, 1997), hal. 26
[5] A.M. Syaefuddin, Al-Qur’an: paradigma iptek dan kehidupan, dalam, Mu’jizat Al-Qur’an dan As-Sunah tentang iptek, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), Jilid II, hal. 37
[6] Moh. Nasiruddin Abbas, Islam antara rasionalitas dan otentitas: sebuah idealisme utopis, (Sumenep: Jurnal Iqra’ IDIA, edisi 07 Agustus 2001), hal. 6
[7] M. Quraisy Shihab, Op. Cit, hal. 64
[8] Ibid, hal. 65
[9] John M. Echols, Kamus Inggris Indonesia,(Jakarta: PT. Gramedia, 1977), hal. 145
[10] C.D. Chaplin, Kamus lengkap psikologi, (Jakarta: Rajawali Pers, 1995), hal. 319
[11] M. Noor Syam, Pengertian dan hukum dasar pendidikan,dalam Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar dasar-dasar kependidikan,(Surabaya: Usaha Nasional, 1988), hal. 8-10
[12] Sumarno, Dasar-dasar kependidikan,(Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hal. 25-26
[13] Muhibbin Syah, Psikologi pendidikan: suatu pendekatan baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996), hal. 43
[14] Ibid, hal. 43-44
[15] E. Koswara, Teori-teori kepribadian, (Bandung: Eresco, 1991), hal. 22
[16] Jalaluddin Rahmat, Psikologi komonikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), hal. 22
[17] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar umum psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hal. 145
[18] Lester D. Crow dan Alice Crow, Psikologi pendidikan, (Surabaya: Bina Ilmu, 1984), hal. 94-95
[19] Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Dasar-dasar kependidikan Islam, (Surabaya: Karya Abditama, 1996), hal. 4-6
[20] Muhammad Munir Musa, Al-Tarbiyah al-Islamiyah: ushuluha wa tathawwuruha  fi al-bilad al-‘Arabiyah, (‘Alam al-kutub, 1977), hal. 17, dikutip oleh Hery Noer Aly dalam, Ilmu pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999), hal. 3-4
[21] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999), hal. 4
[22] Abdurrahman al-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan metode pendidikan Islam, terjemahan dari, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa asalibuha fi al-Bait wa al-Madrasah wa al-Mujtama’, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hal. 12-14
[23] Abdul Fattah Jalal, Azaz-azaz pendidikan Islam, terjemahan Hery Noer Aly dari, Min al-Ushul al-Tarbawiyah fi al-Islam, (Bandung: Diponegoro, 1988), hal. 28-29
[24] Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep pendidikan dalam Islam, terjemahan Haidar Baqir dari, The concept of education of Islam: An framework  for an Islamic philosophy of education. (Bandung: Mizan, 1984), hal. 64-74
[25] Didalam al-Qur’an terdapat banyak kecaman terhadap orang yang memiliki pengetahuan semacam ini, antara lain didalam Qs. Al-Baqarah : 78 dan 44
[26] Abdul Fattah Jalal, Op. Cit, hal. 29-34
[27] Muhammad al-Naquib al-Attas, Op. Cit, hal. 61-62
[28] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992),   hal. 28
[29] Muhammad al-Toumi al-Syaibani, Falsafah pendidikan Islam, terjemahan dari Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hal. 398-399
[30] H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: suatu tinjauan teoritis dan praktis berdasarkan pendekatan interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hal. 32
[31] Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori pendidikan berdasarkan al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 135
[32]Ibid, hal. 149
[33] Ibid, hal 148
[34] H.M. Arifin, Op.Cit, hal. 42
[35]Ali Ashraf, Horison baru pendidikan Islam, terj. Sori Siregar, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), hal.2
[36] Zakiyah Daradjat, Op.Cit, hal. 31
[37] Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani, Op.Cit, hal. 440-442
[38] Ali ‘Abdul ‘Adzim, Epistemologi dan aksiologi ilmu perspektif al-Qur’an, (Bandung:Remaja Rosda Karya, 1989), hal. 117-127
[39] Al-Raghib al-Isfahani, Mu’jam mufradat alfazh al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, tth), hal. 396, dikutip oleh Hery Noer Aly, Op.Cit, hal. 117
[40] Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Yogyakarta: Krapyak, 1984), hal. 838
[41] Jalaluddin Rahmat, “Ateisme”, dalam Rekonstruksi dan renungan religius Islam, (Jakarta: Paramadina, 1996), hal. 35
[42] Tim Penulis Ensiklopedi Islam, fitrah dalam Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hove, 1994), hal. 20
[43] Al-Zamakhzari, Al-Kasysyaf, (Beirut: Darul Kutub al-Islamiyah, 1995), hal. 463-464
[44] Muhaimin dan Abd. Munir, Pemikiran pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda, 1993), hal. 21
[45] Isma’il Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, (Singapura: Sulaiman Mar’I, tth), hal. 432
[46] Muhaimin dan Abd. Munir, Op.Cit, hal. 21
[47] Tim Penulis Ensiklopedi Islam, Op.Cit, hal. 21
[48] Muhaimin dan Abd. Munir, Ibid, hal. 28-29
[49] A. Mukti Ali, Metodologi ilmu agama Islam, dalam Metodologi penelitian agama: sebuah pengantar, Taufik Abdullah (editor), (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1989), hal. 47-48
[50] Muhaimin, dkk, Dimensi-dimensi studi Islam, (Surabaya: Karya Abditama, 1994), hal. 24-25
[51] Suharsimi Arikunto, Manajemen penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hal. 310
[52] ________________, Prosedur penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hal. 251
[53] Gorys Keraf, Komposisi, (Ende: Nusa Indah, 1997), hal. 179
[54] A.M. Syaefuddin, Al-Qur’an: paradigma iptek dan kehidupan, dalam Mu’jizat al-Qur’an dan as-Sunah tentang iptek, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hal. 35
[55] Nurcholish Madjid, Islam agama peradaban: membangun makna dan relevansi doktrin Islam dalam sejarah, (Jakarta: Paramadina, 2000), hal. 202
[56] M. Quraisy Shihab, Membumikan al-Qur’an,(Bandung: Mizan, 1994), hal. 172
[57] Ibid, hal. 167
[58] M. Quraisy Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996), hal.5, lihat juga,  Membumikan al-Qur’an, Op. Cit, hal. 167-168, dan Lentera hati, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 39-40
[59] M. Quraisy Shihab, Membumikan al-Qur’an, Op.Cit, hal. 168
[60] Sayyid Qutb, Tafsir fi dzilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), jilid XII, hal. 305
[61] Ibid, hal. 58
[62] M. Quraisy Shihab, Mu’jizat al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1997), hal. 168
[63] Al-Syarif Ali Ibn Muhammad al-Jurjani, Kitab al-Ta’rifat, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988), hal. 112-113, dikutip oleh Hery Noer Aly, Op. Cit, hal. 68
[64] Harun Nasution, Konsep manusia menurut ajaran Islam, (Jakarta: Lembaga penerbitan IAIN Syarif Hidayatullah, 1981), hal. 6
[65] Harun Nasution, Akal dan wahyyu dalam Islam, (Jakarta: UI Press, 1986), hal. 8
[66] Harun Nasution, Konsep manusia menurut ajaran Islam, Loc. Cit.
[67] S. Takdir Alisyahbana, Antropologi Baru, (Jakarta: PT. Dian Rakyat, 1986), hal. 29
[68] Muhammad Qutb, Sistem pendidikan Islam, terj. Salman Harun, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1984), hal. 27
[69] Muhibbin Syah, Psikologi pendidikan: suatu pendekatan baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996), hal. 46
[70] Djohan Effendi, Adam, khudi dan insan kamil, dalam M. Dawam Rahardjo,  insan kamil, konsepsi manusia menurut Islam, (Jakarta: PT. Pustaka Graffiti Pers, 1987), hal. 13