MAKALAH PENDIDIKAN DAN KEISLAMAN

Sunday, 7 April 2013

Skripsi - Analisa Surat Al-Alaq Ayat 1-5 dalam Konteks Pendidikan Islam



BAB  I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad Ibrahim Muhanna membahas berbagai aspek kehidupan manusia dan pendidikan merupakan tema terpenting yang dibahasnya. Setiap ayatnya merupakan bahan baku bangunan pendidikan yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Hal itu tidaklah aneh mengingat Al-Qur’an adalah Kitab Hidayah; dan seseorang memperoleh hidayah tidak lain karena pendidikan yang benar serta ketaatannya.[1]
Pendidikan sebagai unsur terpenting dalam kehidupan manusia dan merupakan penentu maju mundurnya suatu peradaban, tentunya mengalami proses dan perubahan seiring tahapan-tahapan perubahan yang dialami oleh manusia. Dan dalam tahapan perubahan ini, manusia seringkali mengalami penyimpangan yang tidak sejalan dengan fitrah kejadiannya yang terdiri dari dua unsur; yaitu unsur tanah dan unsur ketuhanan, karenanya manusia membutuhkan pembinaan yang seimbang antara keduanya, agar tercipta makhluk dwi dimensi dalam satu keseimbangan dunia dan akhirat, ilmu dan iman, atau meminjam istilah Zakiah Daradjat, yaitu terciptanya kepribadian manusia secara utuh rohani dan jasmani dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah SWT. atau lebih dikenal dengan istilah “insan kamil” dengan pola taqwa kepada-Nya.[2]
Untuk mencapai konsep ini (insan kamil), manusia haruslah berkualitas, dan kualisasi hidup manusia ini hanya akan diperoleh melalui proses pendidikan dan pengajaran yang Islami, atau menurut Quraisy Shihab, pendidikan Al-Qur’an.[3]
Pendidikan Al-Qur’an pada intinya adalah pendidikan (penyucian) dan pengajaran yang memberikan masukan kepada anak didik berupa ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan alam fisika dan metafisika. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan Al-Qur’an (Islam) adalah membina manusia guna mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah yang sekaligus sebagai khalifah-Nya dimuka bumi. Sebagai hamba, manusia bertugas mengelola seluruh potensi yang ada dialam ini, agar tercipta kedamaian abadi dan terhindar dari (hanya) membuat kerusakan yang pada akhirnya hanya akan mencelakakan manusia itu sendiri. Oleh karena itu dalam pendidikan Al-Qur’an, anak didik sebagai fokus pendidikan dibina unsur materialnya (jasmani) untuk menjadi manusia yang memiliki skill ketrampilan dan unsur imaterialnya (akal dan jiwa) dengan ilmu pengetahuan, kesucian jiwa dan etika (akhlaq). Keseimbangan (equaliberium) dalam pendidikan Al-Qur’an ini pada gilirannya akan menciptakan (melahirkan) manusia berkualitas yang memiliki perpaduan antara ketrampilan, ilmu pengetahuan dan akhlaq.
Namun, tujuan pendidikan yang esensial ini seringkali tidak tersentuh dalam proses pendidikan kita, karena proses belajar mengajar yang diterapkan masih sebatas transfer ilmu pengetahuan tanpa bernilai pendidikan sehingga out put dari dunia pendidikan kita hanya menjadi robot yang tidak mempunyai tujuan hidup serta lebih mementingkan benda-benda fisik-materi dari pada hal-hal yang bersifat spiritual-imateri yang merupakan potensi internal manusia. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyed Hussein Nasr, bahwa manusia modern telah kehilangan dimensi spiritualitasnya, yaitu potensi ketuhanan pribadi[4], sebagai konsekwensi logis dari sekularisasi pendidikan kita yang orientasinya hanya pada sejauhmana ia bisa masuk dalam lapangan pekerjaan bukan pada sejauhmana ia dapat mengaktualisasikan potensi dirinya yang sangat mulia, yang selanjutnya manusia akan kehilangan jati dirinya dan tidak mengenal lagi hakikat dirinya, karena mereka menganggap bahwa potensi eksternal (mesin-mesin, kekuasaan, kekayaan, pengaruh, jabatan dan lainnya) itulah yang dapat menjamin kelangsungan hidupnya.
Kecenderungan ini juga membawa dampak yang signifikan terhadap agama yang kita anut. Agama yang semestinya menjadi pegangan hidup tidak lagi diamalkan dengan penuh keyakinan dan kepercayaan sebagaimana tercantum dalam pesan transendentalnya (kitab suci), bahkan pada dekade terakhir ini, ada kecenderungan baru dimana agama hanya menjadi alat legitimasi untuk memberikan justifikasi kepada keinginan pribadi dan menjadi simbol untuk memberikan kesan Islami sebagai formalitas bahwa kita beragama Islam, tidak sampai dihayati kedalam jiwa karena masih belum dianggap sebagai petunjuk kehidupan yang direfleksikan dalam prilaku sosial.[5] Dan naifnya, masyarakat baru mampu menangkap makna pesan transendentalnya hanya pada batas sakral dan ritual saja, sesuai dengan kualitas keislaman mereka.
Padahal kalau diamati secara seksama, Islam bukan semata-mata ritual yang legal-formal oriented, tetapi ia merupakan risalah suci, yang sesuai dengan karakter universalitasnya (rahmatan lil’alamien) yang selalu membuka ruang bebas interpretasi dan aktualisasi terhadap orientasi keagamaan dan kulturalnya, seiring dinamika perubahan dan kebutuhan kontemporer. Seperti saat awal diturunkannya, ia bisa berakulturasi dengan berbagi budaya dan norma-norma yang terdapat pada masyarakat di semenanjung Arabia, itulah sebabnya mengapa Islam harus mampu beradaptasi sesuai dengan “bahasa” kaum pemeluknya dimanapun dan kapanpun. “Bahasa” disini tidak hanya berkonotasi dengan huruf, abjad, dan simbol-simbol suara, tetapi lebih mengacu pada seluruh adat-istiadat asli dan pola hidup yang dimiliki masyarakat dalam konteks zamannya.[6]
Karena pada dasarnya, Islam merupakan konsep final dari konstruksi aturan normatif yang bersifat global dan universal, berdimensi spiritual (transenden) dan sosial, dengan berbasiskan tradisi propetik (kenabian) yang berkeadaban, yang memungkinkan adanya interpretasi netral terhadap tatanan normatifnya, sesuai dengan kebutuhan zamannya (temporal).
Dan ini merupakan tugas utama dunia pendidikan sebagai bagian tak terpisahkan dari Islam, untuk mencetak generasi-generasi berkualitas yang selanjutnya akan membawa Islam sesuai dengan fungsinya, yakni rahmatan lil’alamien bukan sebagai pemicu lahirnya konflik keagamaan ditengah pluralitas agama dewasa ini.
Tetapi pertanyaannya kemudian, akankah hal itu terjadi ? bila para pelaku (pembuat kebijakan) pendidikan kita sendiri “kurang beragama”, sedangkan agama dalam proses pendidikan sangat dibutuhkan dan antara keduanya harus seiring sejalan, seperi yang difirmankan Allah dalam surat Al-‘Alaq ayat pertama “Iqra’ bismirabbika” (bacalah ! demi karena Pemeliharamu). Yang oleh Abdul Halim Mahmud Syeh jami’ Al-Azhar diartikan bahwa pendidikan (institusi formal) yang diterapkan dan atau ilmu yang diperoleh harus dapat memberikan manfaat pada pemiliknya, warga masyarakat dan bangsanya. Juga kepada manusia secara umum, ia harus dapat membawa kebahagiaan dan cahaya keseluruh penjuru dan sepanjang masa.[7]
Saat ini, secara umum dapat dibuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak lagi mampu menciptakan kebahagiaan hidup manusia. Ia hanya dapat menciptakan pribadi-pribadi manusia yang bersifat satu dimensi, sehingga walaupun manusia itu mampu berbuat segala sesuatu, namun sering bertindak tidak bijaksana yang menyebabkan manusia menyimpang dari fitrah penciptaannya.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Muhammad Iqbal, yang ketika itu menyadari dampak negatif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Beliau menulis: “kemanusiaan saat ini membutuhkan tiga hal, yaitu penafsiran spiritual atas alam raya, emansipasi spiritual atas individu dan satu himpunan asas yang dianut secara universal yang akan menjelaskan evolusi masyarakat manusia atas dasar spiritualitasnya”.[8]
Itulah deskripsi awal yang setidaknya memberi dua alasan bagi penulis untuk mengangkat permasalahan ini. Pertama, lahirnya sekularisasi dalam dunia pendidikan telah berimplikasi pada lahirnya sekularisasi dalam kehidupan manusia. Pada satu sisi, kehidupan (sosial, ekonomi, politik maupun budaya) manusia terus bergerak pada titik ekstrem sekularisme dengan melakukan proses marginalisasi terhadap nilai-nilai agama. Sisi lain, pendidikan –khususnya yang bercorak- agama tidak mampu merespon apalagi melakukan sinergi terhadap kehidupan yang sekuler itu. Agama sebagaimana dipahami pemeluknya, terlena dengan persoalan keakhiratan semata, sementara persoalan kontemporer yang mendesak untuk direspon dibiarkan tanpa kendali agama.
Kedua, sekularisasi telah melahirkan berbagai persoalan akut yang menimpa masyarakat modern. Terutama krisis yang menghilangkan arah hidup manusia itu sendiri, karena sekularisasi hanya menyederhanakan manusia menjadi “manusia satu dimensi” (one dimentional man), yakni dimensi lahiriyah semata.
Pendidikan yang pada dasarnya berada pada posisi yang cukup strategis untuk melakukan transformasi nilai-nilai keislaman sebenarnya bisa menjadi penyeimbang bagi nilai-nilai sekuler yang sudah mewarnai sendi-sendi kehidupan manusia secara komprehensif. Dalam hal ini pendidikan Islam bisa memainkan perannya, tentu saja dengan tetap mengacu pada landasan konseptualnya, yakni Al-Qur’an dan Al-Hadist, supaya out put dari pendidikan Islam dapat berkualitas, baik intelektualnya maupun spiritualnya yang merupakan cita-cita seluruh insan didunia untuk menjadi insan kamil, yaitu integralisasi daya rasa dan daya pikir yang memang menjadi potensi dalam diri manusia.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini, maka secara garis besar rumusan masalah yang menjadi fokus pembahasan adalah:
1.     Bagaimanakah konsep pendidikan Islam yang dijelaskan dalam wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya Muhammad SAW. yaitu surat Al-‘Alaq ayat 1 – 5.
2. Adakah hubungan antara konsep pendidikan Islam dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5 dengan teori konvergensi dalam memandang proses pendidikan manusia.

C. Tujuan Penelitian

Secara spesifik tujuan penelitian yang penulis rumuskan adalah:
1. Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam yang dijelaskan dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5.
2. Untuk mengetahui hubungan antara konsep pendidikan Islam dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5 dengan teori konvergensi dalam memandang proses pendidikan manusia.

D. Kegunaan Penelitian

Dari tujuan penelitian yang telah penulis rumuskan, maka kegunaan penelitian ini adalah:
1. Pendidikan sebagai bagian integral dari Islam dan merupakan “penentu” tinggi rendahnya kualitas nilai keislaman seseorang, menjadikan pendidikan adalah hal yang niscaya dan dapat diharapkan untuk menciptakan kualitas hidup manusia. Karenanya melalui tuliasan ini penulis mencoba mencari paradigma konseptual tentang format pendidikan yang sesuai dengan konsep Al-Qur’an, yaitu dengan menganalisa surat Al-‘Alaq ayat 1-5 dalam konteks pendidikan Islam (sesuai dengan disiplin ilmu yang penulis tekuni), karena penulis yakin, hanya dengan pendidikan Islam kita akan mampu menetralisir dampak buruk dari perubahan yang serba cepat ini untuk membangun kembali moralitas sebagai dasar mental dan karakteristik bangsa yang (katanya) mulai bangkit ini.
2. Manusia sebagai pelaku sejarah, dalam perkembangannya mengalami proses dan perubahan sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk sosial yang berbudaya. Dalam tahapan-tahapan perubahan yang dijalani terkadang manusia mengalami penyimpangan yang tidak sejalan dengan fitrahnya dan membuatnya semakin jauh dari Sang Penciptanya. Karenanya melalui tulisan ini penulis mencoba memadukan antara teori konvergensi dalam psikologi dengan konsep fitrah dalam Islam, yang selanjutnya akan dicari persamaan dan perbedaannya, kelemahan dan kelebihannya guna membangun paradigma baru konsep pendidikan Islam dalam rangka membentuk insan kamil selaras dengan tujuan penciptaannya.

E. Definisi Istilah

1. Surat Al-‘Alaq ayat 1-5 merupakan surat dan ayat-ayat Al-Qur’an yang pertama sekali diwahyukan Allah kepada rasul-Nya Muhammad SAW. ketika Beliau sedang berkhalwat diqua Hira’. Dalam surat ini Allah menjelaskan tentang proses pendidikan manusia mulai dari membaca, menulis, sampai hal-hal yang tidak dapat dipahami oleh manusia kecuali karena petunjuk-Nya.
2.      Pendidikan Islam : usaha sadar manusia dewasa untuk mengarahkan, membimbing dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri anak didik sesuai dengan konsep Islam (Al-Qur’an dan Al-Hadist).

--------oo0oo--------


BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari seluruh pembahasan dan analisa yang penulis lakukan, secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Studi analisa yang penulis lakukan terhadap surat al-‘Alaq ayat 1-5 dalam konteks pendidikan Islam, yaitu dengan upaya mencari konsep pendidikan yang ditawarkan oleh surat tersebut, dapat diungkap bahwa proses pendidikan manusia untuk mencapai peradabannya dimulai dari membaca dan menulis, yang dalam prosesnya juga melibatkan peran akan dan hati secara bersamaan.
2.      Kemudian dari analisa korelasi yang penulis lakukan terhadap teori konvergensi dan konsep pendidikan Islam dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5, dapat diketahui bahwa keduanya sama-sama mengakui adanya pengaruh faktor pembawaan dan lingkungan terhadap perkembangan manusia. Hal ini disebabkan karena manusia diciptakan dari ‘alaq yang membutuhkan lingkungan, tetapi dari kajian komprehensif yang dilakukan oleh penulis, ternyata selain kedua faktor tersebut ada unsur lain yang juga ikut berperan dalam proses perkembangan manusia. Unsur lain yang penulis maksudkan disini adalah unsur yang berasal dari setiap individu itu sendiri, yaitu unsur “kesadaran diri” yang muncul dari potensi fitrah manusia.
B. Saran-saran
1.      Untuk menciptakan generasi insan kamil yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, maka proses pendidikan yang diterapkan haruslah memperhatikan aspek jasmani dan rohani, serta akal dan hati manusia, agar tercipta suatu individu yang utuh dan tidak menyimpang dari potensi fitrahnya.
2.      Sedangkan untuk mengaktualisasikan potensi individu secara maksimal, diperlukan adanya optimalisasi peran pembawaan dan lingkungan, agar terbentuk suatu individu yang mendekati titik kesempurnaannya, karena memang mustahil akan betul-betul sempurna.


----------oo0oo----------
JIKA ANDA BUTUH FILE LENGKAPNYA, SILAHKAN HUBUNGI KAMI LEWAT EMAIL:
fatkhalla.spdi@gmail.co


[1] Ahmad Ibrahim Muhanna, Al-Tarbiyah fi Al-Islam, (Cairo: Dar Al-Sya’bi, 1982),  hal. 13, dikutip oleh Hery Noer Ali, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999),  hal. 38
[2] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 29
[3] Quraisy Shihab,  Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 172
[4] Komaruddin Hidayat, Upaya pembebasan manusia, tinjauan sufistik terhadap manusia modern menurut Sayyed Hussein Nasr, dalam M. Dawam Rahardjo, Insan Kamil, konsepsi manusia menurut Islam, (Jakarta: PT. Pustaka Grafiti Pers, 1987), hal. 183-193, ditranskripsi kembali dalam, Sayyed Hussein Nasr: tentang krisis spiritual manusia modern, (Sumenep: Jurnal Fajar STIKA, 1997), hal. 26
[5] A.M. Syaefuddin, Al-Qur’an: paradigma iptek dan kehidupan, dalam, Mu’jizat Al-Qur’an dan As-Sunah tentang iptek, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), Jilid II, hal. 37
[6] Moh. Nasiruddin Abbas, Islam antara rasionalitas dan otentitas: sebuah idealisme utopis, (Sumenep: Jurnal Iqra’ IDIA, edisi 07 Agustus 2001), hal. 6
[7] M. Quraisy Shihab, Op. Cit, hal. 64
[8] Ibid, hal. 65
[9] John M. Echols, Kamus Inggris Indonesia,(Jakarta: PT. Gramedia, 1977), hal. 145
[10] C.D. Chaplin, Kamus lengkap psikologi, (Jakarta: Rajawali Pers, 1995), hal. 319
[11] M. Noor Syam, Pengertian dan hukum dasar pendidikan,dalam Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar dasar-dasar kependidikan,(Surabaya: Usaha Nasional, 1988), hal. 8-10
[12] Sumarno, Dasar-dasar kependidikan,(Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hal. 25-26
[13] Muhibbin Syah, Psikologi pendidikan: suatu pendekatan baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996), hal. 43
[14] Ibid, hal. 43-44
[15] E. Koswara, Teori-teori kepribadian, (Bandung: Eresco, 1991), hal. 22
[16] Jalaluddin Rahmat, Psikologi komonikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), hal. 22
[17] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar umum psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hal. 145
[18] Lester D. Crow dan Alice Crow, Psikologi pendidikan, (Surabaya: Bina Ilmu, 1984), hal. 94-95
[19] Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Dasar-dasar kependidikan Islam, (Surabaya: Karya Abditama, 1996), hal. 4-6
[20] Muhammad Munir Musa, Al-Tarbiyah al-Islamiyah: ushuluha wa tathawwuruha  fi al-bilad al-‘Arabiyah, (‘Alam al-kutub, 1977), hal. 17, dikutip oleh Hery Noer Aly dalam, Ilmu pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999), hal. 3-4
[21] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999), hal. 4
[22] Abdurrahman al-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan metode pendidikan Islam, terjemahan dari, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa asalibuha fi al-Bait wa al-Madrasah wa al-Mujtama’, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hal. 12-14
[23] Abdul Fattah Jalal, Azaz-azaz pendidikan Islam, terjemahan Hery Noer Aly dari, Min al-Ushul al-Tarbawiyah fi al-Islam, (Bandung: Diponegoro, 1988), hal. 28-29
[24] Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep pendidikan dalam Islam, terjemahan Haidar Baqir dari, The concept of education of Islam: An framework  for an Islamic philosophy of education. (Bandung: Mizan, 1984), hal. 64-74
[25] Didalam al-Qur’an terdapat banyak kecaman terhadap orang yang memiliki pengetahuan semacam ini, antara lain didalam Qs. Al-Baqarah : 78 dan 44
[26] Abdul Fattah Jalal, Op. Cit, hal. 29-34
[27] Muhammad al-Naquib al-Attas, Op. Cit, hal. 61-62
[28] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992),   hal. 28
[29] Muhammad al-Toumi al-Syaibani, Falsafah pendidikan Islam, terjemahan dari Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hal. 398-399
[30] H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: suatu tinjauan teoritis dan praktis berdasarkan pendekatan interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hal. 32
[31] Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori pendidikan berdasarkan al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 135
[32]Ibid, hal. 149
[33] Ibid, hal 148
[34] H.M. Arifin, Op.Cit, hal. 42
[35]Ali Ashraf, Horison baru pendidikan Islam, terj. Sori Siregar, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), hal.2
[36] Zakiyah Daradjat, Op.Cit, hal. 31
[37] Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani, Op.Cit, hal. 440-442
[38] Ali ‘Abdul ‘Adzim, Epistemologi dan aksiologi ilmu perspektif al-Qur’an, (Bandung:Remaja Rosda Karya, 1989), hal. 117-127
[39] Al-Raghib al-Isfahani, Mu’jam mufradat alfazh al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, tth), hal. 396, dikutip oleh Hery Noer Aly, Op.Cit, hal. 117
[40] Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Yogyakarta: Krapyak, 1984), hal. 838
[41] Jalaluddin Rahmat, “Ateisme”, dalam Rekonstruksi dan renungan religius Islam, (Jakarta: Paramadina, 1996), hal. 35
[42] Tim Penulis Ensiklopedi Islam, fitrah dalam Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hove, 1994), hal. 20
[43] Al-Zamakhzari, Al-Kasysyaf, (Beirut: Darul Kutub al-Islamiyah, 1995), hal. 463-464
[44] Muhaimin dan Abd. Munir, Pemikiran pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda, 1993), hal. 21
[45] Isma’il Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, (Singapura: Sulaiman Mar’I, tth), hal. 432
[46] Muhaimin dan Abd. Munir, Op.Cit, hal. 21
[47] Tim Penulis Ensiklopedi Islam, Op.Cit, hal. 21
[48] Muhaimin dan Abd. Munir, Ibid, hal. 28-29
[49] A. Mukti Ali, Metodologi ilmu agama Islam, dalam Metodologi penelitian agama: sebuah pengantar, Taufik Abdullah (editor), (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1989), hal. 47-48
[50] Muhaimin, dkk, Dimensi-dimensi studi Islam, (Surabaya: Karya Abditama, 1994), hal. 24-25
[51] Suharsimi Arikunto, Manajemen penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hal. 310
[52] ________________, Prosedur penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hal. 251
[53] Gorys Keraf, Komposisi, (Ende: Nusa Indah, 1997), hal. 179
[54] A.M. Syaefuddin, Al-Qur’an: paradigma iptek dan kehidupan, dalam Mu’jizat al-Qur’an dan as-Sunah tentang iptek, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hal. 35
[55] Nurcholish Madjid, Islam agama peradaban: membangun makna dan relevansi doktrin Islam dalam sejarah, (Jakarta: Paramadina, 2000), hal. 202
[56] M. Quraisy Shihab, Membumikan al-Qur’an,(Bandung: Mizan, 1994), hal. 172
[57] Ibid, hal. 167
[58] M. Quraisy Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996), hal.5, lihat juga,  Membumikan al-Qur’an, Op. Cit, hal. 167-168, dan Lentera hati, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 39-40
[59] M. Quraisy Shihab, Membumikan al-Qur’an, Op.Cit, hal. 168
[60] Sayyid Qutb, Tafsir fi dzilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), jilid XII, hal. 305
[61] Ibid, hal. 58
[62] M. Quraisy Shihab, Mu’jizat al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1997), hal. 168
[63] Al-Syarif Ali Ibn Muhammad al-Jurjani, Kitab al-Ta’rifat, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988), hal. 112-113, dikutip oleh Hery Noer Aly, Op. Cit, hal. 68
[64] Harun Nasution, Konsep manusia menurut ajaran Islam, (Jakarta: Lembaga penerbitan IAIN Syarif Hidayatullah, 1981), hal. 6
[65] Harun Nasution, Akal dan wahyyu dalam Islam, (Jakarta: UI Press, 1986), hal. 8
[66] Harun Nasution, Konsep manusia menurut ajaran Islam, Loc. Cit.
[67] S. Takdir Alisyahbana, Antropologi Baru, (Jakarta: PT. Dian Rakyat, 1986), hal. 29
[68] Muhammad Qutb, Sistem pendidikan Islam, terj. Salman Harun, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1984), hal. 27
[69] Muhibbin Syah, Psikologi pendidikan: suatu pendekatan baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996), hal. 46
[70] Djohan Effendi, Adam, khudi dan insan kamil, dalam M. Dawam Rahardjo,  insan kamil, konsepsi manusia menurut Islam, (Jakarta: PT. Pustaka Graffiti Pers, 1987), hal. 13